"all or nothing !" atau "Maala yudraku kulluhu la yutroku kulluhu !" ……………………………………………………………………………………………………….bila tidak dapat menjangkau seluruhnya maka janganlah meninggalkan keseluruhannya

Posts tagged “idul fitri

HP Jadul dan Idul Fitri

Hang…! hehe…senjata andalanku ternyata bisa hang. Dulu ketika masih baru senjataku ini banyak penggemarnya, tapi ternyata sekarang sudah menjadi barang langka. 3610, type dari sebuah ponsel jadul yang setia menemani dari bangun tidur sampai tidur lagi. Jatuh puluhan kali bahkan ditempat wudlu sempat ikutan terjun ke air, hmmm….bandel sekali ternyata (bukan promosi, kalaupun dianggap promo terimaksih mudah-mudahn  perusahaan ponsel ini mau mengganti dengan type terbaru…;-))

Sebenarnya bukan hang tapi karena kapasitas memori yang masih kecil dan fitur yang terbatas jadi message dari ponsel-ponsel terbaru tidak terbaca bahkan ada yang terputus…(yang salah pengirim atau penerima sih?..) Tapi ya sudahlah….mohon dima’afkan..kan masih lebaran.

Kita bahas saja yang lain, jika dilihat secara kasat mata handphone itu basic sebenarnya adalah sama, dia harus punya power atau catu daya atau yang disebut batere, dia harus mampu menangkap sinyal dari provider yang terlihat dari indikator sinyal dan dia harus mempunyai pulsa. Kalau tidak mempunyai pulsa ya namanya ponsel “SIMATUPANG” alias ‘siang malam tunggu panggilan’.

Jika ketiga komponen ini ada dan berfungsi dengan baik maka bisa dikatakan bahwa ponsel tersebut ‘layak’ pakai. Sebab ketiganya merupakan unsur penting didalam teknologi ponsel ini. Coba kita bayangkan jika tidak terdapat batere didalamnya, sehebat apapun ponsel tersebut tetap tidak akan berfungsi. Atau jika dia tidak dapat menangkap sinyal, maka bisa dipastikan ponsel tersebut lemot atau ‘lemat otak’.

Jika kita membuat logika handphone atau ponsel dengan diri kita mungkin kita akan lebih banyak belajar dari teknologi ini. Manusia terdiri dari tiga komponen yaitu hati (qolbun), akal dan jasad. Hati kita analogikan seperti pulsa dalam sebuah ponsel, jika kita tidak mempunyai pulsa maka kita tidak akan mampu untuk berkomunikasi dengan lawan bicara kita. Walaupun kita bisa dikontak tetapi kita tidak bisa melakukan kontak dengan siapapun.  Jadi setiap saat kita harus menjaga pulsa kita agar tidak habis sama sekali sehingga kita tetap bisa berkomunikasi dengan baik.

Qolbu yang baik pasti akan mampu untuk menggerakkan seseorang menuju ke arah kebaikan, demikian juga sebaliknya hati yang buruk pasti akan mendorong seseorang akan terus melakukan keburukan. Sehingga anjuran untuk setiap saat isi pulsa atau memberikan makanan kepada hati adalah selalu kontak dengan Allah atau dzikrullah.

Sedangkan akal laksana penangkap sinyal-sinyal atau tanda-tanda kebesaran Allah yang ada di alam sekitar kita atau pada diri kita sendiri. Akal yang tidak mampu menangkap tanda-tanda kebesaran Allah pasti tidak akan mampu pula untuk melaksanakan kebaikan apapun bentuknya. Dia akan melaksanan kebaikan sesuai persepsi dirinya sendiri.

“Maka apakah orang-orang yang berpegang pada keterangan yang datang dari Tuhannya sama dengan orang yang (syaitan) menjadikan mereka memandang baik perbuatan yang buruk itu dan mengikuti hawa nafsunya.” (QS Muhammad :14)

Jasad manusia adalah sesuatu yang paling diagungkan oleh manusia itu sendiri. Kebanyakan dari kita seringkali menilai seseorang adalah dari jasadnya. Sama seperti ponsel, walaupun terlihat sempurna tetapi tidak mempunyai power  alias ‘matot /mati total’ atau jika jasad itu terbujur kaku siapakah yang akan berminat?  Inilah sebenarnya yang menjadi sangat penting untuk memperhatikan kesehatan raga, memberikan supply bagi tubuh kita dengan memilih hal-hal yang tidak diharamkan adalah sangat utama. “Mukmin yang kuat lebih dicintai dari pada mukmin yang lemah”, sesusai pesan Rasulullah SAW.

Kesimpulannya adalah se-jadul apapun kita jika  masih mampu men- ‘charge’ diri, maka kebaikan-kebaikan akan selalu terpancar dari pribadi kita. Begitu juga sebaliknya, sehebat apapun diri kita jika tidak mampu memberikan “charge” dengan kebaikan pada jiwa kita, yang ada hanyalah “kesia-siaan” belaka.

Sesungguhnya Allah memasukkan orang-0rang yang beriman dan mengerjakan amal saleh ke dalam surga yang mengalir dibawahnya sungai-sungai. Dan orang-orang kafir itu bersenang-senang di dunia dan mereka makan seperti makannya binatang ternak. Dan neraka adalah tempat tinggal mereka.” (QS Muhammad (47) : 12)

Selamat Idul Fitri 1431 H, …Taqobalallohu minna wa minkum..


Mudik…

Istilah yang tidak asing bagi kita ketika menjelang lebaran atau Idul Fitri tiba. Mudik bisa diartikan pulang kampung halaman, tempat kelahiran atau tempat asal. Hingga orang yang suka mudik disebut ‘udik’ atau orang kampung (gak pakai ‘an’).

Kegiatan yang berlangsung puluhan tahun, dan kapan mulainya kita juga tidak tahu. Yang jelas kegiatan ini sepertinya hanya ada di negeri ini. Mudik dilakukan secara berbondong-bondong dengan segala resikonya. Dan yang menjadi pertanyaan adalah apa sih manfaat dari mudik ini? Apakah hanya memanfaatkan cuti panjang, ketemu keluarga, rekreasi atau malah menjadi kesempatan bisnis?

Pemudik biasanya adalah orang-orang perantauan di kota-kota besar, yang pulang ke kampung halaman dengan membawa cerita yang bermacam-macam. Ada dua biasanya yakni sukses atau tidak sukses alias apes. Yang sukses bisanya juga pulang dengan berbinar-binar, ber’gagah’ ria agar terlihat sebagai orang yang harus disambut dengan gembira dan syukur. Berbeda denga orang yang apes, mereka kelihatan lesu tidak bersemangat bahkan ada yang nekat tidak hendak pulang kampung jika belum merasakan jadi orang sukses.

Jika sudut pandang kita rubah sedikit tentang mudik ini, coba kita renungkan perjalanan kita di dunia ini. Ketika kita diciptakan lahir di dunia ini adakah bekal yang kita bawa dari tempat asal kita? yakni alam ruh. Kita di dunia ini laksana orang yang hina dan papa, karena kita tidak tahu apa-apa dan punya apa-apa.

Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui apapun, dan Dia memberikan kepadamu pendengaran, penglihatan dan hati agar kamu bersyukur. (QS An Nahl 78)

Kemudian setelah menjadi seorang manusia yang utuh dan mampu berpikir, pernahkah terbersit di dalam otak kita? sebenarnya kita ini mau ‘ngapain’.

Di dunia ini kita hanyalah sebagian dari orang ‘udik’ yang suatu sa’at harus mudik ke tempat ‘asal’ yakni kampung akhirat. Ketika kita mudik relakah kita hanya membawa sedikit bekal untuk perjalanan kita kelak? relakah kita jika kita menjadi bagian orang yang apes yang tidak membawa cerita apa-apa selain kesengsaraan?

Jadikanlah mudik kita nanti menjadi akhir yang menyenangkan, bertemu dan berkumpul dengan  saudara-saudara dan keluarga kita orang-orang beriman. Disambut dengan ucapan-ucapan keselamatan dan penghormatan..

dan orang-orang yang menghubungkan apa-apa yang Allah perintahkan untuk dihubungkan dan mereka takut kepada Tuhannya dan takut pada hisab yang buruk

dan orang-orang yang sabar karena mencari keridhaan Tuhannya, mendirikan shalat dan menafkahkan sebagian rizki yang Kami berikan kepada mereka secara sembunyi atau terang-terangan serta menolak kejahatan dengan kebaikan, orang-orang itulah yang mendapat tempat kesudahan (yang baik)

(yaitu) surga Adn yang mereka masuk kedalamnya bersama-sama orang yang sholeh dari bapak-bapaknya, istri-istrinya dan anak cucunya, sedang malaikat-malaikat masuk ke tempat-tempat mereka dari semua pintu

(sambil mengucapkan) “Salamun’ alaikum bima shobartum”. Maka alangkah baiknya tempat kesudahan itu

(QS Ar Ra’du : 21-24)

Itulah sambutan bagi orang-orang yang sukses di dunia dengan membawa bekal ‘amaliyah’nya. Karena sadar bahwa kita ini adalah orang rantau sudah seharusnya kita berusaha untuk menggapai sukses tersebut.

Jangan sampai kita sudah sampai tempat mudik ternyata bekal yang kita bawa tidak ada atau bahkan kita takut mudik karena gagal dalam menyiapkan bekal…

SELAMAT MUDIK….SEMOGA SAMPAI TUJUAN DENGAN SELAMAT…..


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.