Gerbong itu….akhirnya
Kebiasaan bermain tanpa mengenal waktu dan tempat, membuatku sering bersinggungan dengan teman-teman yang tidak aku kenal. Tapi hal tersebut bukanlah halangan bagiku untuk terus bermain, sampai suatu saat ada seorang teman mengajakku untuk naik sebuah gerbong yang tidak kuketahui. Ketika masuk gerbong pertama kali, asing … Orang yang lalu-lalang didalamnya sering memperhatikanku, tapi kebiasaan ‘cuek’ku mampu meredamnya. Tak terasa sudah lama sekali aku bermain di dalamnya, bahkan akrab dengan para penghuninya.
Kondisi gerbong yang begitu nyaman membuatku sering mengajak teman-teman yang aku kenal untuk ikut. Sampai suatu ketika ada hal yang membuatku agak terkejut, gerbong tersebut adalah bagian dari rangkaian sebuah kereta yang sederhana, tanpa warna, tanpa bunyi berisik.
Bahkan ketika kereta berjalanpun, aku masih merasa nyaman. Sesekali berhenti untuk memberikan kesempatan para penumpangnya untuk mengirup udara atau mungkin sekedar mencari makanan ringan.
Bagiku pindah dari gerbong ke gerbong tidak membuat aku merasa asing, toh itu masih satu rangakain kereta dimana para penumpangnya memaklumi.
Suatu ketika, aku mencoba naik ke atas gerbong yang aku naiki…., wah ternyata enak juga nih untuk lihat suasana luar sambil lihat gerbong-gerbong yang lain.
Ternyata kebiasanku untuk naik gerbong, membuatku sering melongok ke gerbong lain. Kereta yang dulu tanpa warna, dan tanpa berisik itu rupanya agak berubah. Mungkin agar lebih menarik gerbong-gerbong dicat warna-warni, dan kereta dibuat agak bersuara walau tidak seberisik kereta yang lain.
Tiba-tiba aku dikejutkan oleh sebuah gerbong dekat lokomotif, yang aku ketahui memang agak padat. Suara gaduh didalamnya membuatku lebih serius untuk mencari-cari penyebabnya. Wow, yang membuatku lebih terkejut beberapa penumpang turun sambil teriak-teriak, sumpah serapah terdengar. Tapi ada juga yang dipaksa turun, tapi yang dipaksa tersebut tidak bereaksi apapun hanya turun dengan tenang diikuti beberapa yang lain.
Ada apa ini, membuat adrenalin mengalir deras..maklum tidak terbiasa dengan hal-hal yang beginian. Setelah cari tahu dari orang-orang yang turun atau dipaksa turun ternyata mempunyai alasan yang sama ‘tidak nyaman’ lagi berada di gerbong tersebut. Setidaknya hal ini bisa diketahui dari obrolan-obrolan panjang mereka, tentang penghuni lain yang tidak toleran, suka membawa barang-barang yang tidak diperlukan hingga membuat gerbong terasa pengap, suka teriak-teriak tidak karuan, sampai kereta api yang dijalankan terlalu cepat dan sering ganti warna lokomotif hingga minta masinis untuk berhenti atau digantikan.
Ternyata hal tersebut berimbas juga pada gerbong-gerbong di dekatnya, kemungkinan kedekatan emosional dengan penghuni gerbong terdekat lebih kental. Tiba-tiba aku dikejutkan lagi oleh gerbong di dekatku yang tadinya banyak penghuni tiba-tiba sepi, wah pada kemana nih….hal ini membuatku agak limbung. Sampai suatu saat aku terbangun dan sadar…” ayo akhi bangun, naik lagi yuk!” seorang teman yang dulu akrab menepuk pipi. Tapi karena agak shock karena peristiwa yang terlihat dan rasa pusing yang belum juga reda, dengan nada agak kasar aku cepat bereaksi “ogah ah!”.
“loh kenapa?” tanyanya , “tuh lihat, banyak yang pada turun dari kereta ini”, jawabku . “Sudahlah, itu manusiawi toh manusia saling membutuhkan. tidak bisa bekerja sendiri.., jika bekerja sama yang dibutuhkan adalah “trust” kalo sudah saling menanam “Dzhon” (curiga) yah..akhirnya bubar..”.
………………………..
“Ya Alloh jika gerbong ini ada dalam ridhomu, gabungkanlah diriku dengan penghuni di dalamnya. Jika hal itu tidak Engkau ridhoi, jauhkanlah aku sejauh-jauhnya”
spacelab23072010
untuk seorang teman, yang belum sempat meminta ma’af kepadanya

komentar anda...