"all or nothing !" atau "Maala yudraku kulluhu la yutroku kulluhu !" ……………………………………………………………………………………………………….bila tidak dapat menjangkau seluruhnya maka janganlah meninggalkan keseluruhannya

Terbaru

Halal Bi Halal, perlukah?

Jika kita bertanya tentang perlunya atau ‘harus’nya dilaksanakan acara halal bi halal maka sebagian besar orang akan menjawab perlu, harus dan bahkan penting. Tanya kenapa? ya…, karena halal bi  halal atau halal bil halal dalam konteks ke ‘indonesia’an sekarang identik dengan “makan-makan” , “kumpul-kumpul” nya orang untuk bersalaman dan berma’afan secara berjama’ah.

Kalau melihat bentuk dan formatnya, acara halal bil halal tidak dikenal dalam budaya islam dimanapun karena ini adalah khas ‘indonesia’. Tidak tahu siapa yang memulai, karena memang tidak ada buku sejarah yang mencatat tentang hal ini. Tetapi jika kita ‘gogling’, ada yang berusaha memaparkan sejarah tentang asal mula dari pelaksanaan halal bi halal ini. Itupun tanpa bukti otentik (foto kejadian atau peristiwa keq..!), jadi untuk tidak mempercayai sejarah-sejarah tersebut tidak berdosa (menurut saya loh…, jika berdosa tolong tunjukkan dalilnya..).

Ada lagi yang memaparkan, bahwa acara halal bil halal ini kebanyakan dilaksakanakan dan diprakarsai oleh kaum elite atau penggede untuk merangkul para bawahan. Sehingga nantinya harmoni bisa tercipta (kata siapa..), padahal kalau melihat dari paparan sejarah dahulu yang menyelenggarakan adalah pihak keraton agar para bawahan itu datang untuk “mencium dengkul” (sungkem) kepada para “bos”.

Sedangkan kalimat Halal Bi Halal atau Halal Bil Halal bisa dimaknai dengan menghalalkan dengan yang halal, karena pada sa’at bulan ramadhan sesuatau yang halal itu adalah haram pada siang hari seperti makan, minum, ber’hubungan’ suami-istri. Setelah Idul Fitri semua yang halal kembali menjadi halal pada siang hari, dan yang tidak ketinggalan adalah ucapan saling ma’af-mema’afkan.

Padahal yang namanya ma’af-mema’afkan ini tidak perlu menunggu pada sa’at lebaran, inilah kemudian yang menjadikan tradisi salah-kaprah. Apalagi ucapan minal aidzin wal faidzin selalu tidak terlupakan.

Seringkali kita menerima jabat tangan dari orang atau teman kita dengan ucapan “pak/mas, minal aidzin ya”, atau “lahir-batin ya”. Nah jika sudah seperti ini maka jawaban kita cuma satu “sama-sama”.

Apakah tradisi itu lantas dihancurkan, tentu tidak,…sebab masih ada kebaikan di dalamnya (sa’at sekarang). Yakni “silaturahim”, inilah yang mungkin banyak dilupakan oleh sebagian dari kita yang memang dalam keseharian tidak mempunyai banyak waktu untuk memikirkan makhluk yang bernama ‘SILATURAHIM‘.

Abdullah bin Salam meriwayatkan, pesan pertama kali aku mendengar dari Rasulullah SAW (sesampainya di Madinah) adalah sabda beliau, “sebarkan salam, berikan makan (kepada yang membutuhkan), bersilaturahimlah, lakukan sholat malam hari sa’at orang-orang tidur nyenyak”.

Silaturahim ini memiliki nilai dan kedudukan yang mulia disisi Allah SWT, seperti dijelaskan dalam hadits qudsi yang diriwayatkan oleh Abdurrahmam bin Auf dari Rasulullah SAW bersabda, ” Allah SWT berfirman: Aku adalah Allah, Aku ArRahman, Aku ciptakan ar-rahim, dari kata itu berasal salah satu namaKu. Barang siapa yang menyambung rahim itu (silaturahim) maka Aku akan menyambungnya, tetapi siapa yang memutuskan rahim itu (silaturahim) maka Aku akan memutuskannya ” (HR Abu Daud dan Tirmidzi, hadits hasan).

Rasulullah SAW bersabda dari Abu Muhammad Jubir bin Muth’im r.a, ” tidak masuk surga orang yang memutuskan” Sufyan berkata, “yakni yang memutuskan rahim atau tali persaudaraan” (HR Bukhori &Muslim)

“Barang siapa yang ingin diluaskan rizkinya dan dipanjangkan umurnya, hendaknya ia bersilaturahim “(HR Muttafaq ‘Alaihi)

Jadi Tunggu apalagi, mari kita “bersilaturahim”….. jangan keliru silatu rahmi ya….?

catatan:

silaturahim dalam khazanah Arab yang benar adalah dengan kerabat, saudara baik jauh atau dekat dari ayah maupun ibu. Jika dengan  orang lain adalah ‘ziarah’, tapi karena pemahaman di indonesia sudah terlanjur “seperti itu” ya apa mau dikata. Karena di sini ‘ziarah’ artinya ke makam.’ (syekh Ali dalam “nikmatnya sedekah”)

jadi ketika ada acara halal bi halal yang diadakan hanya untuk ‘seremoni’ atau ‘senang-senang’, terlebih untuk menampakkan ‘arogansi’ para bos (semua diistimewakan) …..tidak wajib bagi kita untuk hadir…..

Teater apa theatre sih..?

Sebenarnya cuma ingin tahu saja, ada apa sih sebenarnya ada kemeriahan di lantai 1. Oooo…ternyata sedang akan ada peresmian ruang baru. (lebay mode on..:-))

Sebuah ruang yang dulunya hanyalah ruang kelas sekarang berubah wujud menjadi ruang yang bernama Ruang Teater. Memang awal iseng saja mau nulis tentang teater bukan theatre, karena pertama melihat ruang bernama teater, terbayang olehku sebuah tempat berkumpulnya para seniman dan seniwati dalam aktifitas seni peran.

Jadi dalam benakku, mungkinkah akan ada satu ruang khusus yang digunakan untuk satu mata kuliah tambahan? (hehe..ngarang). Mungkinkah ada mahasiswa/i yang sedang ingin mengembangkan kemampuan diri dengan menjalani seni peran alias menjadi aktris/aktor atau kerennya ‘bintang pelem’.

Tapi ternyata ruang (yang hari ini diresmikan) tersebut lebih mirip ruang seminar/studio dengan assesorinya. Jika melihat struktur ruang dan tata letak kursinya, menurutku lebih tepat disebut ruang bioskop atau bioskop mini…(hehe..ma’af ya bapak/ibu jika keliru).

Ternyata ketika buka si ‘wikipedia‘ baru tahu deh…

Teater (bahasa Inggris: theater atau theatre, bahasa Perancis théâtre berasal dari kata theatron (θέατρον) dari bahasa Yunani, yang berarti “tempat untuk menonton”). Awalnya sendiri diperkenalkan pada kultus dyonisius, sebagai ritual upacara pengorbanan domba/lembu kepada Dyonisius dan nyanyian yang digunakan pada masa itu disebut “tragedi”. Dalam perkembangannya Dyonisius dewa yang berwujud hewan itu kemudian berubah menjadi manusia dan dipuja sebagai dewa anggur dan kesuburan.

Teater adalah cabang dari seni pertunjukan yang berkaitan dengan akting/seni peran di depan penonton dengan menggunakan gabungan dari ucapan, gestur (gerak tubuh), mimik, boneka, musik, tari dan lain-lain. Bernard Beckerman, kepala departemen drama di Universitas Hofstra, New York, dalam bukunya, Dynamics of Drama, mendefinisikan teater sebagai ” yang terjadi ketika seorang manusia atau lebih, terisolasi dalam suatu waktu/atau ruang, menghadirkan diri mereka pada orang lain.” Teater bisa juga berbentuk: opera, ballet, mime, kabuki, pertunjukan boneka, tari India klasik, Kunqu, mummers play, improvisasi performance serta pantomim.

Dan sekarang silahkan mendefinisikan ruang tersebut, tapi setelah masuk ruang tersebut tentunya… (foto menyusul…hehe)

HP Jadul dan Idul Fitri

Hang…! hehe…senjata andalanku ternyata bisa hang. Dulu ketika masih baru senjataku ini banyak penggemarnya, tapi ternyata sekarang sudah menjadi barang langka. 3610, type dari sebuah ponsel jadul yang setia menemani dari bangun tidur sampai tidur lagi. Jatuh puluhan kali bahkan ditempat wudlu sempat ikutan terjun ke air, hmmm….bandel sekali ternyata (bukan promosi, kalaupun dianggap promo terimaksih mudah-mudahn  perusahaan ponsel ini mau mengganti dengan type terbaru…;-))

Sebenarnya bukan hang tapi karena kapasitas memori yang masih kecil dan fitur yang terbatas jadi message dari ponsel-ponsel terbaru tidak terbaca bahkan ada yang terputus…(yang salah pengirim atau penerima sih?..) Tapi ya sudahlah….mohon dima’afkan..kan masih lebaran.

Kita bahas saja yang lain, jika dilihat secara kasat mata handphone itu basic sebenarnya adalah sama, dia harus punya power atau catu daya atau yang disebut batere, dia harus mampu menangkap sinyal dari provider yang terlihat dari indikator sinyal dan dia harus mempunyai pulsa. Kalau tidak mempunyai pulsa ya namanya ponsel “SIMATUPANG” alias ‘siang malam tunggu panggilan’.

Jika ketiga komponen ini ada dan berfungsi dengan baik maka bisa dikatakan bahwa ponsel tersebut ‘layak’ pakai. Sebab ketiganya merupakan unsur penting didalam teknologi ponsel ini. Coba kita bayangkan jika tidak terdapat batere didalamnya, sehebat apapun ponsel tersebut tetap tidak akan berfungsi. Atau jika dia tidak dapat menangkap sinyal, maka bisa dipastikan ponsel tersebut lemot atau ‘lemat otak’.

Jika kita membuat logika handphone atau ponsel dengan diri kita mungkin kita akan lebih banyak belajar dari teknologi ini. Manusia terdiri dari tiga komponen yaitu hati (qolbun), akal dan jasad. Hati kita analogikan seperti pulsa dalam sebuah ponsel, jika kita tidak mempunyai pulsa maka kita tidak akan mampu untuk berkomunikasi dengan lawan bicara kita. Walaupun kita bisa dikontak tetapi kita tidak bisa melakukan kontak dengan siapapun.  Jadi setiap saat kita harus menjaga pulsa kita agar tidak habis sama sekali sehingga kita tetap bisa berkomunikasi dengan baik.

Qolbu yang baik pasti akan mampu untuk menggerakkan seseorang menuju ke arah kebaikan, demikian juga sebaliknya hati yang buruk pasti akan mendorong seseorang akan terus melakukan keburukan. Sehingga anjuran untuk setiap saat isi pulsa atau memberikan makanan kepada hati adalah selalu kontak dengan Allah atau dzikrullah.

Sedangkan akal laksana penangkap sinyal-sinyal atau tanda-tanda kebesaran Allah yang ada di alam sekitar kita atau pada diri kita sendiri. Akal yang tidak mampu menangkap tanda-tanda kebesaran Allah pasti tidak akan mampu pula untuk melaksanakan kebaikan apapun bentuknya. Dia akan melaksanan kebaikan sesuai persepsi dirinya sendiri.

“Maka apakah orang-orang yang berpegang pada keterangan yang datang dari Tuhannya sama dengan orang yang (syaitan) menjadikan mereka memandang baik perbuatan yang buruk itu dan mengikuti hawa nafsunya.” (QS Muhammad :14)

Jasad manusia adalah sesuatu yang paling diagungkan oleh manusia itu sendiri. Kebanyakan dari kita seringkali menilai seseorang adalah dari jasadnya. Sama seperti ponsel, walaupun terlihat sempurna tetapi tidak mempunyai power  alias ‘matot /mati total’ atau jika jasad itu terbujur kaku siapakah yang akan berminat?  Inilah sebenarnya yang menjadi sangat penting untuk memperhatikan kesehatan raga, memberikan supply bagi tubuh kita dengan memilih hal-hal yang tidak diharamkan adalah sangat utama. “Mukmin yang kuat lebih dicintai dari pada mukmin yang lemah”, sesusai pesan Rasulullah SAW.

Kesimpulannya adalah se-jadul apapun kita jika  masih mampu men- ‘charge’ diri, maka kebaikan-kebaikan akan selalu terpancar dari pribadi kita. Begitu juga sebaliknya, sehebat apapun diri kita jika tidak mampu memberikan “charge” dengan kebaikan pada jiwa kita, yang ada hanyalah “kesia-siaan” belaka.

Sesungguhnya Allah memasukkan orang-0rang yang beriman dan mengerjakan amal saleh ke dalam surga yang mengalir dibawahnya sungai-sungai. Dan orang-orang kafir itu bersenang-senang di dunia dan mereka makan seperti makannya binatang ternak. Dan neraka adalah tempat tinggal mereka.” (QS Muhammad (47) : 12)

Selamat Idul Fitri 1431 H, …Taqobalallohu minna wa minkum..

Lebaran, Hari Berhitung Nasional

Setuju atau tidak setuju, sepakat atau tidak sepakat yang pasti memang seperti itulah kenyataannya. Bahwa Lebaran di Indonesia atau tepatnya Idul Fitri adalah satu-satunya hari ‘berhitung’ yang ada di Indonesia.

Kenapa disebut hari berhitung? Karena memang faktanya demikian, coba jika kita lihat semua sektor yang menuju ‘lebaran’ pasti ada angka-angka untuk menghitung. Namanya saja lebaran yang dalam bahasa jawa ‘lebar’ artinya selesai atau habis , jadi lebaran artinya ‘penghabisan‘.

Untuk menghitung hari sebelum dan sesudah lebaran digunakan istilah H- dan H+,  perusahan dan instasi menghitung gaji spesial dengan nama THR (tunjangan hari raya), yang membayar zakat mulai menghitung nishabnya, para pedagang menghitung laba berlipat dari hari biasa, orang (yang merasa) kaya berhitung untuk berbelanja, orang (yang merasa) miskin berhitung berapa tempat yang mesti didatanginya, dan mungkin banyak yang berhitung sejak dari awal bulan puasa hingga selesai lebaran. Terlebih lagi bagi mereka yang (hilir) mudik…

Bahkan bapak-bapak polisi pun akan berhitung tentang angka lalulintas , berapa kira-kira jumlah pemudik atau menghitung angka kemacetan yang ada di jalur mudik dan mungkin juga angka kecelakaan yang terjadi tahun ini.

Tapi pernahkah kita berhitung untuk diri kita sendiri, berapa banyak amalkah yang sudah kita perbuat untuk ‘mudik’ kita nanti? Amal ..ya cuma amal sebenarnya yang wajib kita hitung, sebab dengan amal kita bisa memperbaiki diri , lingkungan, bahkan bangsa kita…..Tentunya dengan amal kebaikan bukan amal keburukan….

“Hasibu anfusakum qobla an tuhasabu” begitu kaya sahabat Umar bin Khattab ra. “hitung(hisab)lah amal-amalmu sendiri sebelum  amalmu dihitung”

Sehingga dengan begitu kita akan lebih semangat untuk beramal pasca lebaran…

وَقُلِ اعْمَلُواْ فَسَيَرَى اللّهُ عَمَلَكُمْ وَرَسُولُهُ وَالْمُؤْمِنُونَ وَسَتُرَدُّونَ إِلَى عَالِمِ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ فَيُنَبِّئُكُم بِمَا كُنتُمْ تَعْمَلُونَ

“Dan katakanlah , beramallah (bekeja/berbuatlah) , Alloh dan Rasul-Nya dan juga orang-orang beriman senantiasa melihat amal-amalmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Maha Mengetahui yang ghoib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepadamu apa-apa yang telah kamu kerjakan” QS 9:105

Netter Sombong

Netter sombong adalah,…
-ingin dikunjungi, tidak mau berkunjung…..
-ingin dikomentari, tidak mau berkomentar…
-tinggi hati, menang sendiri, tidak mau berbagi..
berlaku bagi siapa saja …termasuk blogger….

Ingat Zakat Mall, Ogah Zakat Maal

Untuk menemani takmir yang tinggal dua orang (yang lain dah pada mudik kali ya..?) yang sedang menjadi panitia ZIS di mushola, ikut nongkrong sekalian tadarus dengan target menyelesaikan satu juz. Beberapa jama’ah sudah mulai berdatangan untuk membayar zakat, selang beberapa saat ada seorang anak yang membawa bungkusan plastik berisi kain.

Walaupun agak samar-samar di tengah tadarus aku mendengar percakapan anak tersebut dengan takmir..

“pak, zakatnya boleh diganti nggak?” tanya anak tersebut, ” ganti apa?” tanya takmir. ” Ini lo kata bapak kalau zakatnya boleh diganti, akan diganti dengan spanduk ini.” sahut anak tersebut. “Ya sudah bawa sini..”, kata takmir.

Setelah selesai satu juz, aku mencoba bertanya pada takmir yang menerima bungkusan tadi “ada apa to pak?”.  “Ini lo ada yang bayar zakat dengan mengganti pakai spanduk”, kata takmir. “Lha memang spanduk buat apa pak?” tanyaku lagi sambil membuka lipatan kain tadi. ” Wah ucapan selamat Idul Fitri , pak” kataku. ” Tapi ini ucapannya dari iklan cat, bukan daari mushola kita pak.”

Ini hanya sebagian kisah yang aku alami semalam, ternyata masih ada orang-orang yang menjalankan agama ini hanya se’kadar’nya. Mungkin berapa banyak lagi orang yang memang tidak paham atau memang belum mengerti tentang ‘fikih’ atau hukum-hukum yang ada dalam agama dan banyak berlaku ‘cuek’ atau mungkin tidak pernah ingin tahu, yang penting islam.

Jika kita bandingkan dengan orang-orang yahudi, mungkin ada kesamaan dalam hal meng’akal’i hukum-hukum dalam agama. Bahkan mereka berani terang-terangan menolak apa-apa yang dinilai tidak menguntungkan bagi diri mereka. Akhirnya yang terjadi adalah kerusakan pada perilaku mereka. Salah satu contoh adalah larangan untuk menangkap ikan pada hari Sabath, untuk mensiasatinya mereka sudah memasang jaring pada hari jum’at malam sehingga ikan tetap terjaring.

Padahal jika mereka mengetahui hikmah yang ada dibalik hukum-hukum yang sudah ditetapkan oleh Allah SWT, maka kebaikan- kebaikan yang ada akan kembali kepada diri mereka sendiri.

Jika kita bicara tentang zakat, yang ada dalam benak kita kebanyakan hanya zakat fitrah. Yakni zakat yang harus ditunaikan setiap bulan romadhon sebelum sholat Idul Fitri. Padahal yang namanya zakat bukan hanya zakat fitrah, dan itu adalah kewajiban yang harus ditunaikan oleh setiap muslim yang mempunyai kelebihan harta. Jika tidak punya maka wajib baginya untuk diberi zakat.

Inilah sebuah bentuk kepedulian sosial dari pelaksanaan agama ini, atau yang lebih sering disebut “hablumminnannas”. Tapi yang namanya manusia, tetap saja sifat “bebal” yang ditonjolkan. Walaupun mereka sekolah tinggi mereka tidak akan pernah faham dengan apa yang namanya zakat, apalagi zakat maal. Yang mereka pahami adalah ZAKAT MALL…! alias cuci gudangnya mall.

Aku Manusia Biasa

Suiit..suuiit,..hehe yang baca judul diatas pasti yang diingat cuma lagunya si Y & the..mbuh ah. Males ngebahasnya lihat yang nyanyi aja sudah males apalagi dengar lagunya….Emang saya paling males lihat orang (laki-laki) pakai anting,..cuih..emang kita apaaaaan!

Loh koq jadi ngomongin orang,..astaghfirullah….! Sebenarnya lagi kepingin ngebahas “Aku manusia biasa” koq malah sampai ke mana-mana.

Iyalah aku memang manusia biasa….

…biasa telat kalo berangkat kerja,

…biasa telat kalo bangun,

…biasa telat kalo ngerjain tugas,

…biasa telat kalo ambil gaji,

…biasa telat kalo kuliah,

…biasa telat kalo KRS,

…biasa cuek kalo di omeli,

…biasa, biasa aja…….

NB: ‘ma’af hari ini ga ada kultum , belum sempat …….

Mudik…

Istilah yang tidak asing bagi kita ketika menjelang lebaran atau Idul Fitri tiba. Mudik bisa diartikan pulang kampung halaman, tempat kelahiran atau tempat asal. Hingga orang yang suka mudik disebut ‘udik’ atau orang kampung (gak pakai ‘an’).

Kegiatan yang berlangsung puluhan tahun, dan kapan mulainya kita juga tidak tahu. Yang jelas kegiatan ini sepertinya hanya ada di negeri ini. Mudik dilakukan secara berbondong-bondong dengan segala resikonya. Dan yang menjadi pertanyaan adalah apa sih manfaat dari mudik ini? Apakah hanya memanfaatkan cuti panjang, ketemu keluarga, rekreasi atau malah menjadi kesempatan bisnis?

Pemudik biasanya adalah orang-orang perantauan di kota-kota besar, yang pulang ke kampung halaman dengan membawa cerita yang bermacam-macam. Ada dua biasanya yakni sukses atau tidak sukses alias apes. Yang sukses bisanya juga pulang dengan berbinar-binar, ber’gagah’ ria agar terlihat sebagai orang yang harus disambut dengan gembira dan syukur. Berbeda denga orang yang apes, mereka kelihatan lesu tidak bersemangat bahkan ada yang nekat tidak hendak pulang kampung jika belum merasakan jadi orang sukses.

Jika sudut pandang kita rubah sedikit tentang mudik ini, coba kita renungkan perjalanan kita di dunia ini. Ketika kita diciptakan lahir di dunia ini adakah bekal yang kita bawa dari tempat asal kita? yakni alam ruh. Kita di dunia ini laksana orang yang hina dan papa, karena kita tidak tahu apa-apa dan punya apa-apa.

Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui apapun, dan Dia memberikan kepadamu pendengaran, penglihatan dan hati agar kamu bersyukur. (QS An Nahl 78)

Kemudian setelah menjadi seorang manusia yang utuh dan mampu berpikir, pernahkah terbersit di dalam otak kita? sebenarnya kita ini mau ‘ngapain’.

Di dunia ini kita hanyalah sebagian dari orang ‘udik’ yang suatu sa’at harus mudik ke tempat ‘asal’ yakni kampung akhirat. Ketika kita mudik relakah kita hanya membawa sedikit bekal untuk perjalanan kita kelak? relakah kita jika kita menjadi bagian orang yang apes yang tidak membawa cerita apa-apa selain kesengsaraan?

Jadikanlah mudik kita nanti menjadi akhir yang menyenangkan, bertemu dan berkumpul dengan  saudara-saudara dan keluarga kita orang-orang beriman. Disambut dengan ucapan-ucapan keselamatan dan penghormatan..

dan orang-orang yang menghubungkan apa-apa yang Allah perintahkan untuk dihubungkan dan mereka takut kepada Tuhannya dan takut pada hisab yang buruk

dan orang-orang yang sabar karena mencari keridhaan Tuhannya, mendirikan shalat dan menafkahkan sebagian rizki yang Kami berikan kepada mereka secara sembunyi atau terang-terangan serta menolak kejahatan dengan kebaikan, orang-orang itulah yang mendapat tempat kesudahan (yang baik)

(yaitu) surga Adn yang mereka masuk kedalamnya bersama-sama orang yang sholeh dari bapak-bapaknya, istri-istrinya dan anak cucunya, sedang malaikat-malaikat masuk ke tempat-tempat mereka dari semua pintu

(sambil mengucapkan) “Salamun’ alaikum bima shobartum”. Maka alangkah baiknya tempat kesudahan itu

(QS Ar Ra’du : 21-24)

Itulah sambutan bagi orang-orang yang sukses di dunia dengan membawa bekal ‘amaliyah’nya. Karena sadar bahwa kita ini adalah orang rantau sudah seharusnya kita berusaha untuk menggapai sukses tersebut.

Jangan sampai kita sudah sampai tempat mudik ternyata bekal yang kita bawa tidak ada atau bahkan kita takut mudik karena gagal dalam menyiapkan bekal…

SELAMAT MUDIK….SEMOGA SAMPAI TUJUAN DENGAN SELAMAT…..

Terserah (2 ) atau sa’karepmu …

Masih ingatkah peristiwa kemarin menjelang Ramadhan? orang yang katanya mirip bintang? he..he. Pasti lah antenanya pada ‘tune in’. Sebenarnya kalau ingat berita yang satu ini, ingin rasanya ‘njitak’ jidat orang yang bikin berita. Mentang-mentang bisa bikin berita, suka bikin yang aneh-aneh. Untuk mendongkrak ratinglah, untuk menaikkan oplah lah tapi yang jelas mereka ingin menebalkan dompet?, itu yang pasti.

Kalau beritanya dikatakan mirip bintang jelas aku yang harusnya paling tersinggung. Coba bayangkan bukankah bintang dalam bahasa Jawa itu berarti  ‘lintang’ yang dalam bahasa pewayangan adalah ‘kartiko’ atau ‘kartika’ . Nah kalau beritanya mirip bintang berarti mirip kartiko, wah ini yang gak bener..! tapi ya sudahlah (hehe..kayak  judul lagu).

Kembali ke berita selanjutnya,..eh keliru…kembali ke topik tentang maraknya berita yang isinya adalah perbuatan ‘tidak baik’ kemudian diekspos besar-besaran,  entah itu berita cabul, korupsi, perampokan, pembunuhan dan lain-lain (sampai males ngrincinya). Inti semuanya adalah  pada akhlaq dan moral bangsa yang sudah di obrak-abrik dengan hilangnya satu budaya, yaitu ‘MALU’.

Jika seseorang sudah hilang atau putus ‘urat-malu’nya , maka apapun akan dikerjakan demi mencapai segala keinginannya.  Jadi benar apa yang dikatakan oleh Rasulullah SAW,

عَنْ أَبِي مَسْعُوْدٍ عُقْبَةَ بِنْ عَمْرٍو الأَنْصَارِي الْبَدْرِي رَضِيَ الله عَنْهُ قَالَ : قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : إِنَّ مِمَّا أَدْرَكَ النَّاسُ مِنْ كَلاَمِ النُّبُوَّةِ الأُوْلَى، إِذَا لَمْ تَسْتَحِ فَاصْنَعْ مَا شِئْتَ

[رواه البخاري ]

dari Abu Mas’ud Uqbah bin Amr Al Anshary Al Badry radhiallahuanhu dia berkata, Rasulullah shallallahi’alaihi wa sallam bersabda: sesungguhnya ungkapan yang telah dikenal orang-orang dari ucapan nabi-nabi terdahulu adalah: jika engkau tidak malu, perbuatlah apa yang engkau suka. (Riwayat Bukhori)

Istilah orang Jawa  ” sa’karepmu !”……….

Terserah…

Kawan, pernahkah kita berhadapan dengan orang yang selama ini kita segani tiba-tiba menegur kita? Kemudian memberikan nasehatnya hingga membuat kita serasa tidak mampu lagi untuk membuat alasan lain sehingga kita terhindar dari apa yang di nasehatkan tersebut?

Mungkin begitulah tabiat kita, yang sering lupa sehingga memang harus ada yang mengingatkan. Walaupun peringatan tersebut sering tidak kita gubris, tapi peringatan itu sudah pasti ada. Peringatan atau nasehat sering membuat kita risih, jengkel bahkan dongkol, apalagi jika kita sudah dari awal tidak menyukai siapa yang menyampaikan atau apa yang akan disampaikan.

Lalu bagaimana jika nasehat itu dari Pencipta kita yang disampaikan lewat lisan Nabi kita Rasulullah SAW? Apakah kita akan tetap bebal…?

Dalam suatu riwayat yang terdapat dalam hadits arbain Imam Nawawi urutan yang yang ke 24 disebutkan…

عَنْ أَبِي ذَرٍّ الْغِفَارِي رَضِيَ اللهُ عَنْهُ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِيْمَا يَرْوِيْهِ عَنْ رَبِّهِ عَزَّ وَجَلَّ أَنَّهُ قَالَ : يَا عِبَادِي إِنِّي حَرَّمْتُ الظُّلْمَ عَلىَ نَفْسِي وَجَعَلْتُهُ بَيْنَكُمْ مُحَرَّماً، فَلاَ تَظَالَمُوا . يَا عِبَادِي كُلُّكُمْ ضَالٌّ إِلاَّ مَنْ هَدَيْتُهُ، فَاسْتَهْدُوْنِي أَهْدِكُمْ . يَا عِبَادِي كُلُّكُمْ جَائِعٌ إِلاَّ مَنْ أَطْعَمْتُهُ فَاسْتَطْعِمُوْنِي أَطْعِمْكُمْ . يَا عِبَادِي كُلُّكُمْ عَارٍ إِلاَّ مَنْ كَسَوْتُهُ فَاسْتَكْسُوْنِي أَكْسُكُمْ . يَا عِبَادِي إِنَّكُمْ تُخْطِئُوْنَ بِاللَّيْلِ وَالنَّهَارِ وَأَناَ أَغْفِرُ الذُّنُوْبَ جَمِيْعاً، فَاسْتَغْفِرُوْنِي أَغْفِرْ لَكُمْ، يَا عِبَادِي إِنَّكُمْ لَنْ تَبْلُغُوا ضُرِّي فَتَضُرُّوْنِي، وَلَنْ تَبْلُغُوا نَفْعِي فَتَنْفَعُوْنِي . يَا عِبَادِي لَوْ أَنَّ أَوَّلَكُمْ وَآخِرَكُمْ وَإِنْسَكُمْ وَجِنَّكُمْ كَانُوا عَلَى أَتْقَى قَلْبِ رَجُلٍ وَاحِدٍ مِنْكُمْ مَا زَادَ ذَلِكَ فِي مُلْكِي شَيْئاً . يَا عِبَادِي لَوْ أَنَّ أَوَّلَكُمْ وَآخِرَكُمْ وَإِنْسَكُمْ وَجِنَّكُمْ كَانُوا عَلَى أَفْجَرِ قَلْبِ رَجُلٍ وَاحِدٍ مِنْكُمْ مَا نَقَصَ ذَلِكَ مِنْ مُلْكِي شَيْئاً . يَا عِبَادِي لَوْ أَنَّ أَوَّلَكُمْ وَآخِرَكُمْ وَإِنْسَكُمْ وَجِنَّكُمْ قَامُوا فِي صَعِيْدٍ وَاحِدٍ فَسَأَلُوْنِي فَأَعْطَيْتُ كُلَّ وَاحِدٍ مَسْأَلَتَهُ مَا نَقَصَ ذَلِكَ مِمَّا عِنْدِي إِلاَّ كَمَا يَنْقُصُ الْمَخِيْطُ إِذَا أُدْخِلَ الْبَحْرَ . يَا عِبَادِي إِنَّمَا هِيَ أَعَمَالُكُمْ أُحْصِيْهَا لَكُمْ ثُمَّ أُوْفِيْكُمْ إِيَّاهَا فَمَنْ وَجَدَ خَيْراً فَلْيَحْمَدِ اللهَ وَمَنْ وَجَدَ غَيْرَ ذَلِكَ فَلاَ يَلُوْمَنَّ إِلاَّ نَفْسَهُ .

[رواه مسلم]

Dari Abu Dzar Al-Ghifari radhiallahuanhu dari Rasulullah SAW sebagaimana beliau riwayatkan dari Rabbnya Azza wajalla bahwa Dia berfirman :

Wahai hamba-Ku sesungguhnya Aku telah mengharamkan kezaliman atas diri-Ku dan Aku telah menetapkan haramnya (kezaliman itu) di antara kalian, maka janganlah kalian saling berlaku zalim.

Wahai hamba-Ku semua kalian adalah sesat kecuali siapa yang Aku beri petunjuk (hidayah), maka mintalah petunjuk (hidayah) kepada-Ku nisacaya Aku beri petunjuk (hidayah).

Wahai hamba-Ku kalian semua kelaparan, kecuali siapa yang Aku beri makanan, maka mintalah makan kepada-Ku niscaya Aku beri kalian makanan.

Wahai hamba-Ku kalian semua telanjang kecuali yang Aku beri pakaian maka mintalah pakaian kepada-Ku niscaya Aku beri kalian pakaian.

Wahai hamba-Ku kalian semua melakukan kesalahan pada malam dan siang hari dan Aku mengampuni dosa semuanya, maka mintalah ampun kepada-Ku niscaya Aku ampuni.

Wahai hamba-Ku sesungguhnya tidak ada kemudharatan yang dapat kalian lakukan kepada-Ku sebagaimana tidak ada kemanfaatan yang kalian berikan kepada-Ku.

Wahai hamba-Ku seandainya orang pertama hingga akhir dari kalian, dari kalangan manusia dan jin semuanya berada dalam keadaan paling takwa diantara kamu, niscaya hal itu tidak akan menambah kerajaan-Ku sedikitpun.

Wahai hamba-Ku seandainya sejak orang pertama hingga akhir dari kalian, dari golongan manusia dan jin semuanya, berada dalam keadaan paling durhaka diantara kalian, niscaya hal itu tidak mengurangi kerajaan-Ku sedikitpun.

Wahai hamba-Ku seandainya orang pertama hingga akhir dari kalian semuanya berdiri di sebuah bukit lalu meminta kepada-Ku, lalu setiap orang yang meminta Aku penuhi, niscaya hal itu tidak mengurangi apa yang ada pada-Ku kecuali bagaikan sebuah jarum yang dicelupkan ke tengah lautan.

Wahai hamba-Ku sesungguhnya semua perbuatan kalian akan diperhitungkan untuk kalian kemudian diberikan balasannya, siapa yang banyak mendapatkan kebaikan maka hendaklah dia bersyukur kepada Allah dan siapa yang menemukan selain (kebaikan) itu janganlah ada yang dicela, kecuali dirinya

(Riwayat Muslim)

Kawan setelah kita mendengar atau membaca uraian tersebut masihkah ada keraguan untuk selalu berbuat kebaikan, percaya tentang agama ini, percaya tentang permintaan, percaya tentang akhirat, percaya tentang hari perhitungan dan satu lagi percaya kepada Allah yang menciptakan kita dan mengawasi kita..?

Tidak,..tidak….. saya tidak butuh jawaban, sebab jawaban itu ada pada sikap kita sendiri dan Allah Maha segalanya…..

“….maka barang siapa yang (ingin) beriman hendaklah ia beriman, dan barangsiapa yang (ingin) kafir maka biarlah ia kafir….”  (QS Al Kahfi :29)

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.