"all or nothing !" atau "Maala yudraku kulluhu la yutroku kulluhu !" ……………………………………………………………………………………………………….bila tidak dapat menjangkau seluruhnya maka janganlah meninggalkan keseluruhannya

Perjalanan

Terima Kasih Guru

Dalam rangka memperingati hari “guru” yang jatuh pada tanggal 25 Nopember, kami sebagai manusia yang pernah menjadi “murid” mengucapkan “Selamat Hari Guru Nasional” . Jasa-jasa yang telah engkau berikan semoga mendapat ganjaran dari Tuhan Yang Maha Kuasa,…

Sebagai pengingat jasa-jasa mereka, ada lagu yang mungkin bisa memberikan semangat bagi para guru dan calon guru.

 

Terima kasihku kuucapkan

pada guruku yang tulus

ilmu yang berguna selalu dilimpahkan

untuk bekalku nanti

Setiap hariku dibimbingnya

agar tumbuhlah bakatku

kan kuingat slalu nasihat guruku

terima kasihku guruku

 

Mungkin yang belum ngerti lagunya bisa download di sini

 

 

 

Nb (nulis bawah) : ma’af imagenya “guru” kungfu…, mengingatkan guru smp kami yg jago kungfu ala indonesia alias silat..


Murid vs Guru Atheis

Di manapun yang namanya guru, pasti akan memberikan ilmu yang terbaik bagi murid-muridnya. Begitupun dengan seorang guru yang ‘atheis’, dia akan menurunkan ‘ilmu’ yang dimiliki agar kelak muridnya mengikuti jejaknya  (bukankah begitu..?). Tapi kadang ada hal yang tidak disadari oleh ‘Sang Guru’ bahwa di sekian banyak murid pastilah ada satu-dua yang agak nyeleneh kalau mungkin bisa dikatakan lebih ‘pinter’ dari gurunya ( tapi kebanyakan para guru ber ‘ideologi’ iblis yaitu ‘ana khoiru minhu’ atau  ”aku lebih baik dari kamu (manusia)”).

(mohon ma’af jika benar demikian, tidak bermaksud melecehkan atau merendahkan tapi mengingatkan…, semoga yang masih ber’ideologi’ seperti itu cepat bertobat)

Dalam sebuah dialog di sebuah ruang kelas sang guru bertanya pada murid-murid,..”Anak-anak, apakah kalian melihat tuhan” . Serentak jawaban. “tidak….!”. “coba kalian minta pensil kepada tuhan….”, kata sang guru lagi. “Nah sekarang kalian tahu, bahwa tuhan tidak ada”.

Tidak disangka salah seorang murid maju ke depan, dengan lantang dia bertanya kepada teman-temannya, “teman-teman apakah kalian melihat akal pak guru?”.  “Tidakk….!” jawaban yang hampir serempak. “nah jika demikian pak guru tidak punya akal, karena akal pak guru tidak ada..!

Nah lo…..


Tip & Trik unduh AVG Free 9.0

Jika kita akan memasang anti virus di komputer kita dengan AVG versi free alias gratisan, maka kita akan dianjurkan untuk men’download’ versi gratisannya di website AVG. Untuk yang paham bahasa ‘linggis’ silahkan baca dulu sebelum mendownload, tapi bagi yang memang agak tuklis alias “tukul ingglish” seperti saya (hehe..) download di sini .

Kenapa demikian, ya karena kebanyakan dari kita agak “kemaki” dengan ‘klik’. Tanpa baca ini dan itu langsung klik, yang penting sedot, tapi setelah diinsatall ga bisa (hehehe…salah sendiri). Padahal di website AVG sendiri telah ada petunjuk yang jelas, ingin online atau offline.

Secara online maksudnya adalah kita terus menerus terhubung dengan jaringan internet, dan offline adalah kita tidak terhubung atau  koneksi dengan internet (lha itu pada tahu semua…)

Ketika perintah yang ada tidak dibaca dan yang terlihat adalah tulisan tebal ‘start the download’, yang terjadi adalah langsung ‘klik’. Dan yang diunduh adalah file executable untuk online dengan ukauran file 1,3 Mb, padahal file lengkapnya sebesar kira-kira 93 Mb.

Dengan mengunduh file versi offline kita bisa bawa pulang dan siap di ‘eksekusi’ tanpa terkoneksi dengan jaringan internet, kecuali jika ingin update…. (selamat mengunduh dan meng ‘eksekusi’).

NB (nulis bawah):

‘ mohon ma’af jika menyinggung perasaan, karena pengalaman anda ditulis di blog ini (hehehe..) padahal ‘inglish’nya oke loh…. :–)) ‘


HP Jadul dan Idul Fitri

Hang…! hehe…senjata andalanku ternyata bisa hang. Dulu ketika masih baru senjataku ini banyak penggemarnya, tapi ternyata sekarang sudah menjadi barang langka. 3610, type dari sebuah ponsel jadul yang setia menemani dari bangun tidur sampai tidur lagi. Jatuh puluhan kali bahkan ditempat wudlu sempat ikutan terjun ke air, hmmm….bandel sekali ternyata (bukan promosi, kalaupun dianggap promo terimaksih mudah-mudahn  perusahaan ponsel ini mau mengganti dengan type terbaru…;-))

Sebenarnya bukan hang tapi karena kapasitas memori yang masih kecil dan fitur yang terbatas jadi message dari ponsel-ponsel terbaru tidak terbaca bahkan ada yang terputus…(yang salah pengirim atau penerima sih?..) Tapi ya sudahlah….mohon dima’afkan..kan masih lebaran.

Kita bahas saja yang lain, jika dilihat secara kasat mata handphone itu basic sebenarnya adalah sama, dia harus punya power atau catu daya atau yang disebut batere, dia harus mampu menangkap sinyal dari provider yang terlihat dari indikator sinyal dan dia harus mempunyai pulsa. Kalau tidak mempunyai pulsa ya namanya ponsel “SIMATUPANG” alias ‘siang malam tunggu panggilan’.

Jika ketiga komponen ini ada dan berfungsi dengan baik maka bisa dikatakan bahwa ponsel tersebut ‘layak’ pakai. Sebab ketiganya merupakan unsur penting didalam teknologi ponsel ini. Coba kita bayangkan jika tidak terdapat batere didalamnya, sehebat apapun ponsel tersebut tetap tidak akan berfungsi. Atau jika dia tidak dapat menangkap sinyal, maka bisa dipastikan ponsel tersebut lemot atau ‘lemat otak’.

Jika kita membuat logika handphone atau ponsel dengan diri kita mungkin kita akan lebih banyak belajar dari teknologi ini. Manusia terdiri dari tiga komponen yaitu hati (qolbun), akal dan jasad. Hati kita analogikan seperti pulsa dalam sebuah ponsel, jika kita tidak mempunyai pulsa maka kita tidak akan mampu untuk berkomunikasi dengan lawan bicara kita. Walaupun kita bisa dikontak tetapi kita tidak bisa melakukan kontak dengan siapapun.  Jadi setiap saat kita harus menjaga pulsa kita agar tidak habis sama sekali sehingga kita tetap bisa berkomunikasi dengan baik.

Qolbu yang baik pasti akan mampu untuk menggerakkan seseorang menuju ke arah kebaikan, demikian juga sebaliknya hati yang buruk pasti akan mendorong seseorang akan terus melakukan keburukan. Sehingga anjuran untuk setiap saat isi pulsa atau memberikan makanan kepada hati adalah selalu kontak dengan Allah atau dzikrullah.

Sedangkan akal laksana penangkap sinyal-sinyal atau tanda-tanda kebesaran Allah yang ada di alam sekitar kita atau pada diri kita sendiri. Akal yang tidak mampu menangkap tanda-tanda kebesaran Allah pasti tidak akan mampu pula untuk melaksanakan kebaikan apapun bentuknya. Dia akan melaksanan kebaikan sesuai persepsi dirinya sendiri.

“Maka apakah orang-orang yang berpegang pada keterangan yang datang dari Tuhannya sama dengan orang yang (syaitan) menjadikan mereka memandang baik perbuatan yang buruk itu dan mengikuti hawa nafsunya.” (QS Muhammad :14)

Jasad manusia adalah sesuatu yang paling diagungkan oleh manusia itu sendiri. Kebanyakan dari kita seringkali menilai seseorang adalah dari jasadnya. Sama seperti ponsel, walaupun terlihat sempurna tetapi tidak mempunyai power  alias ‘matot /mati total’ atau jika jasad itu terbujur kaku siapakah yang akan berminat?  Inilah sebenarnya yang menjadi sangat penting untuk memperhatikan kesehatan raga, memberikan supply bagi tubuh kita dengan memilih hal-hal yang tidak diharamkan adalah sangat utama. “Mukmin yang kuat lebih dicintai dari pada mukmin yang lemah”, sesusai pesan Rasulullah SAW.

Kesimpulannya adalah se-jadul apapun kita jika  masih mampu men- ‘charge’ diri, maka kebaikan-kebaikan akan selalu terpancar dari pribadi kita. Begitu juga sebaliknya, sehebat apapun diri kita jika tidak mampu memberikan “charge” dengan kebaikan pada jiwa kita, yang ada hanyalah “kesia-siaan” belaka.

Sesungguhnya Allah memasukkan orang-0rang yang beriman dan mengerjakan amal saleh ke dalam surga yang mengalir dibawahnya sungai-sungai. Dan orang-orang kafir itu bersenang-senang di dunia dan mereka makan seperti makannya binatang ternak. Dan neraka adalah tempat tinggal mereka.” (QS Muhammad (47) : 12)

Selamat Idul Fitri 1431 H, …Taqobalallohu minna wa minkum..


Lebaran, Hari Berhitung Nasional

Setuju atau tidak setuju, sepakat atau tidak sepakat yang pasti memang seperti itulah kenyataannya. Bahwa Lebaran di Indonesia atau tepatnya Idul Fitri adalah satu-satunya hari ‘berhitung’ yang ada di Indonesia.

Kenapa disebut hari berhitung? Karena memang faktanya demikian, coba jika kita lihat semua sektor yang menuju ‘lebaran’ pasti ada angka-angka untuk menghitung. Namanya saja lebaran yang dalam bahasa jawa ‘lebar’ artinya selesai atau habis , jadi lebaran artinya ‘penghabisan‘.

Untuk menghitung hari sebelum dan sesudah lebaran digunakan istilah H- dan H+,  perusahan dan instasi menghitung gaji spesial dengan nama THR (tunjangan hari raya), yang membayar zakat mulai menghitung nishabnya, para pedagang menghitung laba berlipat dari hari biasa, orang (yang merasa) kaya berhitung untuk berbelanja, orang (yang merasa) miskin berhitung berapa tempat yang mesti didatanginya, dan mungkin banyak yang berhitung sejak dari awal bulan puasa hingga selesai lebaran. Terlebih lagi bagi mereka yang (hilir) mudik…

Bahkan bapak-bapak polisi pun akan berhitung tentang angka lalulintas , berapa kira-kira jumlah pemudik atau menghitung angka kemacetan yang ada di jalur mudik dan mungkin juga angka kecelakaan yang terjadi tahun ini.

Tapi pernahkah kita berhitung untuk diri kita sendiri, berapa banyak amalkah yang sudah kita perbuat untuk ‘mudik’ kita nanti? Amal ..ya cuma amal sebenarnya yang wajib kita hitung, sebab dengan amal kita bisa memperbaiki diri , lingkungan, bahkan bangsa kita…..Tentunya dengan amal kebaikan bukan amal keburukan….

“Hasibu anfusakum qobla an tuhasabu” begitu kaya sahabat Umar bin Khattab ra. “hitung(hisab)lah amal-amalmu sendiri sebelum  amalmu dihitung”

Sehingga dengan begitu kita akan lebih semangat untuk beramal pasca lebaran…

وَقُلِ اعْمَلُواْ فَسَيَرَى اللّهُ عَمَلَكُمْ وَرَسُولُهُ وَالْمُؤْمِنُونَ وَسَتُرَدُّونَ إِلَى عَالِمِ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ فَيُنَبِّئُكُم بِمَا كُنتُمْ تَعْمَلُونَ

“Dan katakanlah , beramallah (bekeja/berbuatlah) , Alloh dan Rasul-Nya dan juga orang-orang beriman senantiasa melihat amal-amalmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Maha Mengetahui yang ghoib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepadamu apa-apa yang telah kamu kerjakan” QS 9:105


Ingat Zakat Mall, Ogah Zakat Maal

Untuk menemani takmir yang tinggal dua orang (yang lain dah pada mudik kali ya..?) yang sedang menjadi panitia ZIS di mushola, ikut nongkrong sekalian tadarus dengan target menyelesaikan satu juz. Beberapa jama’ah sudah mulai berdatangan untuk membayar zakat, selang beberapa saat ada seorang anak yang membawa bungkusan plastik berisi kain.

Walaupun agak samar-samar di tengah tadarus aku mendengar percakapan anak tersebut dengan takmir..

“pak, zakatnya boleh diganti nggak?” tanya anak tersebut, ” ganti apa?” tanya takmir. ” Ini lo kata bapak kalau zakatnya boleh diganti, akan diganti dengan spanduk ini.” sahut anak tersebut. “Ya sudah bawa sini..”, kata takmir.

Setelah selesai satu juz, aku mencoba bertanya pada takmir yang menerima bungkusan tadi “ada apa to pak?”.  “Ini lo ada yang bayar zakat dengan mengganti pakai spanduk”, kata takmir. “Lha memang spanduk buat apa pak?” tanyaku lagi sambil membuka lipatan kain tadi. ” Wah ucapan selamat Idul Fitri , pak” kataku. ” Tapi ini ucapannya dari iklan cat, bukan daari mushola kita pak.”

Ini hanya sebagian kisah yang aku alami semalam, ternyata masih ada orang-orang yang menjalankan agama ini hanya se’kadar’nya. Mungkin berapa banyak lagi orang yang memang tidak paham atau memang belum mengerti tentang ‘fikih’ atau hukum-hukum yang ada dalam agama dan banyak berlaku ‘cuek’ atau mungkin tidak pernah ingin tahu, yang penting islam.

Jika kita bandingkan dengan orang-orang yahudi, mungkin ada kesamaan dalam hal meng’akal’i hukum-hukum dalam agama. Bahkan mereka berani terang-terangan menolak apa-apa yang dinilai tidak menguntungkan bagi diri mereka. Akhirnya yang terjadi adalah kerusakan pada perilaku mereka. Salah satu contoh adalah larangan untuk menangkap ikan pada hari Sabath, untuk mensiasatinya mereka sudah memasang jaring pada hari jum’at malam sehingga ikan tetap terjaring.

Padahal jika mereka mengetahui hikmah yang ada dibalik hukum-hukum yang sudah ditetapkan oleh Allah SWT, maka kebaikan- kebaikan yang ada akan kembali kepada diri mereka sendiri.

Jika kita bicara tentang zakat, yang ada dalam benak kita kebanyakan hanya zakat fitrah. Yakni zakat yang harus ditunaikan setiap bulan romadhon sebelum sholat Idul Fitri. Padahal yang namanya zakat bukan hanya zakat fitrah, dan itu adalah kewajiban yang harus ditunaikan oleh setiap muslim yang mempunyai kelebihan harta. Jika tidak punya maka wajib baginya untuk diberi zakat.

Inilah sebuah bentuk kepedulian sosial dari pelaksanaan agama ini, atau yang lebih sering disebut “hablumminnannas”. Tapi yang namanya manusia, tetap saja sifat “bebal” yang ditonjolkan. Walaupun mereka sekolah tinggi mereka tidak akan pernah faham dengan apa yang namanya zakat, apalagi zakat maal. Yang mereka pahami adalah ZAKAT MALL…! alias cuci gudangnya mall.


Mudik…

Istilah yang tidak asing bagi kita ketika menjelang lebaran atau Idul Fitri tiba. Mudik bisa diartikan pulang kampung halaman, tempat kelahiran atau tempat asal. Hingga orang yang suka mudik disebut ‘udik’ atau orang kampung (gak pakai ‘an’).

Kegiatan yang berlangsung puluhan tahun, dan kapan mulainya kita juga tidak tahu. Yang jelas kegiatan ini sepertinya hanya ada di negeri ini. Mudik dilakukan secara berbondong-bondong dengan segala resikonya. Dan yang menjadi pertanyaan adalah apa sih manfaat dari mudik ini? Apakah hanya memanfaatkan cuti panjang, ketemu keluarga, rekreasi atau malah menjadi kesempatan bisnis?

Pemudik biasanya adalah orang-orang perantauan di kota-kota besar, yang pulang ke kampung halaman dengan membawa cerita yang bermacam-macam. Ada dua biasanya yakni sukses atau tidak sukses alias apes. Yang sukses bisanya juga pulang dengan berbinar-binar, ber’gagah’ ria agar terlihat sebagai orang yang harus disambut dengan gembira dan syukur. Berbeda denga orang yang apes, mereka kelihatan lesu tidak bersemangat bahkan ada yang nekat tidak hendak pulang kampung jika belum merasakan jadi orang sukses.

Jika sudut pandang kita rubah sedikit tentang mudik ini, coba kita renungkan perjalanan kita di dunia ini. Ketika kita diciptakan lahir di dunia ini adakah bekal yang kita bawa dari tempat asal kita? yakni alam ruh. Kita di dunia ini laksana orang yang hina dan papa, karena kita tidak tahu apa-apa dan punya apa-apa.

Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui apapun, dan Dia memberikan kepadamu pendengaran, penglihatan dan hati agar kamu bersyukur. (QS An Nahl 78)

Kemudian setelah menjadi seorang manusia yang utuh dan mampu berpikir, pernahkah terbersit di dalam otak kita? sebenarnya kita ini mau ‘ngapain’.

Di dunia ini kita hanyalah sebagian dari orang ‘udik’ yang suatu sa’at harus mudik ke tempat ‘asal’ yakni kampung akhirat. Ketika kita mudik relakah kita hanya membawa sedikit bekal untuk perjalanan kita kelak? relakah kita jika kita menjadi bagian orang yang apes yang tidak membawa cerita apa-apa selain kesengsaraan?

Jadikanlah mudik kita nanti menjadi akhir yang menyenangkan, bertemu dan berkumpul dengan  saudara-saudara dan keluarga kita orang-orang beriman. Disambut dengan ucapan-ucapan keselamatan dan penghormatan..

dan orang-orang yang menghubungkan apa-apa yang Allah perintahkan untuk dihubungkan dan mereka takut kepada Tuhannya dan takut pada hisab yang buruk

dan orang-orang yang sabar karena mencari keridhaan Tuhannya, mendirikan shalat dan menafkahkan sebagian rizki yang Kami berikan kepada mereka secara sembunyi atau terang-terangan serta menolak kejahatan dengan kebaikan, orang-orang itulah yang mendapat tempat kesudahan (yang baik)

(yaitu) surga Adn yang mereka masuk kedalamnya bersama-sama orang yang sholeh dari bapak-bapaknya, istri-istrinya dan anak cucunya, sedang malaikat-malaikat masuk ke tempat-tempat mereka dari semua pintu

(sambil mengucapkan) “Salamun’ alaikum bima shobartum”. Maka alangkah baiknya tempat kesudahan itu

(QS Ar Ra’du : 21-24)

Itulah sambutan bagi orang-orang yang sukses di dunia dengan membawa bekal ‘amaliyah’nya. Karena sadar bahwa kita ini adalah orang rantau sudah seharusnya kita berusaha untuk menggapai sukses tersebut.

Jangan sampai kita sudah sampai tempat mudik ternyata bekal yang kita bawa tidak ada atau bahkan kita takut mudik karena gagal dalam menyiapkan bekal…

SELAMAT MUDIK….SEMOGA SAMPAI TUJUAN DENGAN SELAMAT…..


Terserah (2 ) atau sa’karepmu …

Masih ingatkah peristiwa kemarin menjelang Ramadhan? orang yang katanya mirip bintang? he..he. Pasti lah antenanya pada ‘tune in’. Sebenarnya kalau ingat berita yang satu ini, ingin rasanya ‘njitak’ jidat orang yang bikin berita. Mentang-mentang bisa bikin berita, suka bikin yang aneh-aneh. Untuk mendongkrak ratinglah, untuk menaikkan oplah lah tapi yang jelas mereka ingin menebalkan dompet?, itu yang pasti.

Kalau beritanya dikatakan mirip bintang jelas aku yang harusnya paling tersinggung. Coba bayangkan bukankah bintang dalam bahasa Jawa itu berarti  ‘lintang’ yang dalam bahasa pewayangan adalah ‘kartiko’ atau ‘kartika’ . Nah kalau beritanya mirip bintang berarti mirip kartiko, wah ini yang gak bener..! tapi ya sudahlah (hehe..kayak  judul lagu).

Kembali ke berita selanjutnya,..eh keliru…kembali ke topik tentang maraknya berita yang isinya adalah perbuatan ‘tidak baik’ kemudian diekspos besar-besaran,  entah itu berita cabul, korupsi, perampokan, pembunuhan dan lain-lain (sampai males ngrincinya). Inti semuanya adalah  pada akhlaq dan moral bangsa yang sudah di obrak-abrik dengan hilangnya satu budaya, yaitu ‘MALU’.

Jika seseorang sudah hilang atau putus ‘urat-malu’nya , maka apapun akan dikerjakan demi mencapai segala keinginannya.  Jadi benar apa yang dikatakan oleh Rasulullah SAW,

عَنْ أَبِي مَسْعُوْدٍ عُقْبَةَ بِنْ عَمْرٍو الأَنْصَارِي الْبَدْرِي رَضِيَ الله عَنْهُ قَالَ : قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : إِنَّ مِمَّا أَدْرَكَ النَّاسُ مِنْ كَلاَمِ النُّبُوَّةِ الأُوْلَى، إِذَا لَمْ تَسْتَحِ فَاصْنَعْ مَا شِئْتَ

[رواه البخاري ]

dari Abu Mas’ud Uqbah bin Amr Al Anshary Al Badry radhiallahuanhu dia berkata, Rasulullah shallallahi’alaihi wa sallam bersabda: sesungguhnya ungkapan yang telah dikenal orang-orang dari ucapan nabi-nabi terdahulu adalah: jika engkau tidak malu, perbuatlah apa yang engkau suka. (Riwayat Bukhori)

Istilah orang Jawa  ” sa’karepmu !”……….


Terserah…

Kawan, pernahkah kita berhadapan dengan orang yang selama ini kita segani tiba-tiba menegur kita? Kemudian memberikan nasehatnya hingga membuat kita serasa tidak mampu lagi untuk membuat alasan lain sehingga kita terhindar dari apa yang di nasehatkan tersebut?

Mungkin begitulah tabiat kita, yang sering lupa sehingga memang harus ada yang mengingatkan. Walaupun peringatan tersebut sering tidak kita gubris, tapi peringatan itu sudah pasti ada. Peringatan atau nasehat sering membuat kita risih, jengkel bahkan dongkol, apalagi jika kita sudah dari awal tidak menyukai siapa yang menyampaikan atau apa yang akan disampaikan.

Lalu bagaimana jika nasehat itu dari Pencipta kita yang disampaikan lewat lisan Nabi kita Rasulullah SAW? Apakah kita akan tetap bebal…?

Dalam suatu riwayat yang terdapat dalam hadits arbain Imam Nawawi urutan yang yang ke 24 disebutkan…

عَنْ أَبِي ذَرٍّ الْغِفَارِي رَضِيَ اللهُ عَنْهُ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِيْمَا يَرْوِيْهِ عَنْ رَبِّهِ عَزَّ وَجَلَّ أَنَّهُ قَالَ : يَا عِبَادِي إِنِّي حَرَّمْتُ الظُّلْمَ عَلىَ نَفْسِي وَجَعَلْتُهُ بَيْنَكُمْ مُحَرَّماً، فَلاَ تَظَالَمُوا . يَا عِبَادِي كُلُّكُمْ ضَالٌّ إِلاَّ مَنْ هَدَيْتُهُ، فَاسْتَهْدُوْنِي أَهْدِكُمْ . يَا عِبَادِي كُلُّكُمْ جَائِعٌ إِلاَّ مَنْ أَطْعَمْتُهُ فَاسْتَطْعِمُوْنِي أَطْعِمْكُمْ . يَا عِبَادِي كُلُّكُمْ عَارٍ إِلاَّ مَنْ كَسَوْتُهُ فَاسْتَكْسُوْنِي أَكْسُكُمْ . يَا عِبَادِي إِنَّكُمْ تُخْطِئُوْنَ بِاللَّيْلِ وَالنَّهَارِ وَأَناَ أَغْفِرُ الذُّنُوْبَ جَمِيْعاً، فَاسْتَغْفِرُوْنِي أَغْفِرْ لَكُمْ، يَا عِبَادِي إِنَّكُمْ لَنْ تَبْلُغُوا ضُرِّي فَتَضُرُّوْنِي، وَلَنْ تَبْلُغُوا نَفْعِي فَتَنْفَعُوْنِي . يَا عِبَادِي لَوْ أَنَّ أَوَّلَكُمْ وَآخِرَكُمْ وَإِنْسَكُمْ وَجِنَّكُمْ كَانُوا عَلَى أَتْقَى قَلْبِ رَجُلٍ وَاحِدٍ مِنْكُمْ مَا زَادَ ذَلِكَ فِي مُلْكِي شَيْئاً . يَا عِبَادِي لَوْ أَنَّ أَوَّلَكُمْ وَآخِرَكُمْ وَإِنْسَكُمْ وَجِنَّكُمْ كَانُوا عَلَى أَفْجَرِ قَلْبِ رَجُلٍ وَاحِدٍ مِنْكُمْ مَا نَقَصَ ذَلِكَ مِنْ مُلْكِي شَيْئاً . يَا عِبَادِي لَوْ أَنَّ أَوَّلَكُمْ وَآخِرَكُمْ وَإِنْسَكُمْ وَجِنَّكُمْ قَامُوا فِي صَعِيْدٍ وَاحِدٍ فَسَأَلُوْنِي فَأَعْطَيْتُ كُلَّ وَاحِدٍ مَسْأَلَتَهُ مَا نَقَصَ ذَلِكَ مِمَّا عِنْدِي إِلاَّ كَمَا يَنْقُصُ الْمَخِيْطُ إِذَا أُدْخِلَ الْبَحْرَ . يَا عِبَادِي إِنَّمَا هِيَ أَعَمَالُكُمْ أُحْصِيْهَا لَكُمْ ثُمَّ أُوْفِيْكُمْ إِيَّاهَا فَمَنْ وَجَدَ خَيْراً فَلْيَحْمَدِ اللهَ وَمَنْ وَجَدَ غَيْرَ ذَلِكَ فَلاَ يَلُوْمَنَّ إِلاَّ نَفْسَهُ .

[رواه مسلم]

Dari Abu Dzar Al-Ghifari radhiallahuanhu dari Rasulullah SAW sebagaimana beliau riwayatkan dari Rabbnya Azza wajalla bahwa Dia berfirman :

Wahai hamba-Ku sesungguhnya Aku telah mengharamkan kezaliman atas diri-Ku dan Aku telah menetapkan haramnya (kezaliman itu) di antara kalian, maka janganlah kalian saling berlaku zalim.

Wahai hamba-Ku semua kalian adalah sesat kecuali siapa yang Aku beri petunjuk (hidayah), maka mintalah petunjuk (hidayah) kepada-Ku nisacaya Aku beri petunjuk (hidayah).

Wahai hamba-Ku kalian semua kelaparan, kecuali siapa yang Aku beri makanan, maka mintalah makan kepada-Ku niscaya Aku beri kalian makanan.

Wahai hamba-Ku kalian semua telanjang kecuali yang Aku beri pakaian maka mintalah pakaian kepada-Ku niscaya Aku beri kalian pakaian.

Wahai hamba-Ku kalian semua melakukan kesalahan pada malam dan siang hari dan Aku mengampuni dosa semuanya, maka mintalah ampun kepada-Ku niscaya Aku ampuni.

Wahai hamba-Ku sesungguhnya tidak ada kemudharatan yang dapat kalian lakukan kepada-Ku sebagaimana tidak ada kemanfaatan yang kalian berikan kepada-Ku.

Wahai hamba-Ku seandainya orang pertama hingga akhir dari kalian, dari kalangan manusia dan jin semuanya berada dalam keadaan paling takwa diantara kamu, niscaya hal itu tidak akan menambah kerajaan-Ku sedikitpun.

Wahai hamba-Ku seandainya sejak orang pertama hingga akhir dari kalian, dari golongan manusia dan jin semuanya, berada dalam keadaan paling durhaka diantara kalian, niscaya hal itu tidak mengurangi kerajaan-Ku sedikitpun.

Wahai hamba-Ku seandainya orang pertama hingga akhir dari kalian semuanya berdiri di sebuah bukit lalu meminta kepada-Ku, lalu setiap orang yang meminta Aku penuhi, niscaya hal itu tidak mengurangi apa yang ada pada-Ku kecuali bagaikan sebuah jarum yang dicelupkan ke tengah lautan.

Wahai hamba-Ku sesungguhnya semua perbuatan kalian akan diperhitungkan untuk kalian kemudian diberikan balasannya, siapa yang banyak mendapatkan kebaikan maka hendaklah dia bersyukur kepada Allah dan siapa yang menemukan selain (kebaikan) itu janganlah ada yang dicela, kecuali dirinya

(Riwayat Muslim)

Kawan setelah kita mendengar atau membaca uraian tersebut masihkah ada keraguan untuk selalu berbuat kebaikan, percaya tentang agama ini, percaya tentang permintaan, percaya tentang akhirat, percaya tentang hari perhitungan dan satu lagi percaya kepada Allah yang menciptakan kita dan mengawasi kita..?

Tidak,..tidak….. saya tidak butuh jawaban, sebab jawaban itu ada pada sikap kita sendiri dan Allah Maha segalanya…..

“….maka barang siapa yang (ingin) beriman hendaklah ia beriman, dan barangsiapa yang (ingin) kafir maka biarlah ia kafir….”  (QS Al Kahfi :29)


Bohong, tidurnya orang puasa ibadah

Mungkin bagi kita yang tukang tidur akan pasang wajah mengerucut kedepan alias cemberut. Lha wong dari dulu kalau dapat ceramah tentang ramadhan pasti yang dibahas nilai ibadahnya tukang tidur..hehe. Nah kalau tidurnya dapat nilai ibadah mending tidur aja gih, kagak usah kerja, kagak usah belajar, kagak usah ngapa-ngapain, terus hidupnya buat apa? ibadah?, berarti ada rumus baru   hidup=ibadah, tidur=ibadah   jadi hidup=tidur.

Di era reformasi, koq masih ada orang yang begitu aja makan mentah-mentah setiap omongan.. eh.. informasi. Bukankah kita di sekolah diajar untuk selalu “ngilmiah”, eh ma’af mungkin langsung saja kita lihat sumber asli dari informasinya…

hadits tidurnya orang puasa adalah ibadah

عن عبد الله بن أبي أوفى ، قال : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم :« نوم الصائم عبادة ، وصمته تسبيح ، وعمله مضاعف ،

ودعاؤه مستجاب ، وذنبه مغفور

Dari Abdullah bin Abu Aufa dia berkata bahwa Rasulullah Shallahu ‘alaihi wasallam bersabda: Tidurnya orang yang berpuasa adalah ibadah, diamnya adalah tasbih, amalnya dilipatgandakan, do’anya dikabulkan, dan dosanya diampunkan. (HR. Al Baihaqi, Syu’abul Iman, Juz.8 Hal. 462, No. 3778)

Dalam sanad (urutan) hadits ini diriwayatkan oleh Ma’ruf bin Hisan dan Sulaiman bin Amru an Nakha’i.

Imam al Bahaqi berkata tentang mereka berdua: “Ma’ruf bin Hisan adalah dha’if (lemah) dan Sulaiman bin “Amru an Nakha’i, lebih dha’if darinya”. (Syu’abul Iman, Juz 8, Hal 464, No 3780)

Dalam Takhrijul Ihya disebutkan : “Dalam hadits ini terdapat Sulaiman bin “Amru an Nakha’i, salah seorang pendusta”. (Imam Zainuddin al ‘iraqi, Takhrijul Ihya, Juz 2 Hal 23 No 723. Al Maktabah Asy Syamilah).

Syaikh al Albany men’dha’if‘kan hadits ini (Shahih wa Dha’if Jami’ush Shagir, Juz. 26 Hal.384, No 12740)

Gimana?, setelah mengetahu hal diatas…. masih ngotot bahwa tidur adalah ibadah?

Pada dasarnya semua aktifitas hidup kita sa’at puasa ataupun tidak adalah bernilai ibadah bila kita meniatkannya untuk Allah. Jadi tidur bisa bernilai ibadah jika kita niatkan untuk menghindari hal-hal yang berbau maksiat dan tidak bermanfa’at, atau kita tidur untuk menghimpun tenaga agar kuat dalam menjalankan ketaatan kepada Allah.

Sebaliknya jika tidurnya tukang tidur untuk menghindari rasa lapar dari pada menjalankan hal-hal yang bermanfaat memperlihatkan kemalasan dengan alasan ‘tidurnya orang puasa=ibadah’.

NB: (nulis bawah)

–> Kumpulan hadits dha’if (lemah) dan mau’dhu (palsu) seputar puasa dan bulan ramadhan,( )


Sudah berdo’a koq belum terkabul?

Banyak diantara kita mungkin masih mempunyai perasaan seperti ini. Sudah berdo’a siang malam, koq belum dikabulkan juga ya, apakah ini yang dinamakan adil. Mereka yang tidak pernah berdo’a saja kayaknya koq enak terus hidupnya,..hu..hu (nangis…(cengeng)). <– kurungnya kebanyakan.

Sebenernya jika ingin menjawab masalah tersebut harusnya kita instrospeksi (bener gak sih nulisnya) diri atau istilah kerennya muhasabah. Karena pada dasarnya yang namanya makhluq hidup itu pasti sudah ada jatahnya (kayak pembagian BLT aja..)

Kebayang oleh kita nggak, andaikan Allah mengabulkan semua do’a (yang isinya pasti permintaan semua) pada hari yang sama. Semua sopir angkot berdo’a hari ini dapat setoran yang bisa menutup hingga satu minggu kedepan, sehingga besok tidak usah narik lagi. Bisa dipastikan besok paginya akan banyak pelajar, pekerja akan terlantar karena tidak ada angkot yang beroperasi.

Allahu Akbar , Allah Maha Besar yang mengatur segala-galanya….dari satu contoh diatas saja kita mungkin sudah mulai bisa berpikir betapa Allah sudah memberikan kadar kepada sesuatu sesuai dengan porsinya. Dengan demikian apakah kita tetap memaksakan diri untuk tetap meminta yang sebenarnya tidak pas atau tidak baik akibatnya bagi diri kita, atau bahkan bagi sistem lingkungan kita. Bukankah kita harusnya merasa bahwa kita merupakan bagian dari rencana Allah untuk orang lain.

Contoh lain misalkan jika kita suka pada pengamen yang sedang berada didepan kita, padahal tujuannya cuma agar dapat simpati kita sehingga kita memberi uang sekedarnya atau bahkan tambahan. Kalau kita tidak suka pasti baru ‘jreng’ , satu kali petik gitar saja sudah kita kasih recehan (untungnya tidak bilang ‘sanese mawon’ atau lainnya saja). Intinya jika kita tidak suka dengan seseorang pasti kita juga tidak ingin berlama-lama dengan orang tersebut.

Tapi ini mungkin tidak pada tempatnya untuk menyamakan Khaliq dengan mahkluk. Husnuzhon saja, Allah masih mencintai kita dengan menguji kita atau menahan segala permintaan kita agar kita lebih dekat dengan-Nya.

Atau mungkin kita masih tidak mengacuhkan perintah-perintah-Nya, seperti firman Allah dalam surat Al Baqarah ayat 186

artinya: Dan apabila hamba-hambaKu bertanya tentang Aku, maka bahwasanya Aku dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintahKu) dan hendaklah mereka beriman kepadaKu agar mereka selalu berada dalam kebenaran.

Nah, ternyata jika ingin do’a dikabulkan ternyata juga ada syaratnya,..yang pertama harus melaksanakan perintah-perintah Allah, kedua benar-benar beriman dan yang ketiga selalu berada dalam kebenaran.

Atau malah ada yang berdo’a dalam kondisi seperti potongan hadits di bawah :

“.…Kemudian beliau menyebutkan ada seseorang melakukan perjalanan jauh dalam keadaan kusut dan berdebu. Dia mengangkatkan kedua tangannya seraya berdo’a : Ya Rabbi, Ya Rabbi,..padahal makanannya haram, minumannya haram, pakaiannya haram dan kebutuhannya dipenuhi dengan sesuatu yang haram, maka ( jika begitu keadaannya) bagaimana do’anya akan terkabul” (HR Muslim). Nukilan hadits yang ke 10 dari hadits arbain.


Orang Baik Juga Masuk Neraka

Waduh,…bener nggak sih? kalau kita bertanya pada anak kecil, siapa yang ingin masuk neraka?….hening. Kalau pertanyaannya “siapa yang ingin masuk surga?”….riuh. Sebenarnya jawaban yang sama akan kita dapatkan dari orang dewasa jika diberi pertanyaan yang sama, tapi apakah mereka mau menjawab secara lugas layaknya anak-anak? Lalu jika ditanyakan lagi siapa sih yang harusnya masuk neraka, beragam jawaban akan kita dapatkan. Ada yang menjawab pencuri, perampok, tukang tipu…pokoknya yang jahat-jahatlah. Lantas yang masuk surga adalah orang-orang yang berbuat segala macam kebaikan.

Tapi benarkah..? Oke , coba kita lihat hadits Nabi SAW,….

عن أبي هريرة قال: سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول
إن أول الناس يقضى يوم القيامة عليه: رجل استشهد، فأتى به، فعرفه نعمته فعرفها، قال: فما عملت فيها؟ قال: قاتلت فيك حتى استشهدت. قال: كذبت، ولكنك قاتلت لأن يقال: هو جرئ، فقد قيل، ثم أمر به فسحب على وجهه حتى ألقي في النار، ورجل تعلم العلم وعلمه، وقرأ القرآن، فأتى به، فعرفه نعمه فعرفها، قال: فما عملت فيها؟ قال: تعلمت العلم وعلمته، وقرأت فيك القرآن. قال: كذبت، ولكنك تعلمت ليقال: عالم، وقرأت القرآن ليقال هو قارئ، فقد قيل، ثم أمر به فسحب على وجهه حتى ألقي في النار، ورجل وسع الله عليه وأعطاه من أصناف المال، فأتى به، فعرفه نعمه فعرفها، قال: فما علمت فيها؟ قال: ما تركت من سبيل تحب أن ينفق فيها إلا أنفقت فيها لك، قال: كذبت، ولكنك فعلت ليقال: هو جواد، فقد قيل، ثم أمر به فسحب على وجهه حتى ألقي في النار
(رواه مسلم والنسائي، ورواه الترمذي وحسنه، وابن حبان في صحيحه)
5

Dari Abu Hurairah berkata, saya mendengar Rasulullah SAW bersabda , sesungguhnya manusia yang pertama yang diadili pada hari kiamat adalah orang yang mati syahid, Dia didatangkan kemudian diperlihatkan kepadanya nikmat-nikmat yang diberikan kepadanya maka dia mengakuinya, Allah bertanya, “apa yang kamu lakukan dengannya?” dia menjawab , “aku berperang di jalanMu sampai aku mati syahid”. Allah berfirman , “engkau berdusta, sebenarnya engkau berperang karena ingin disebut sebagai pemberani, dan itu sudah engkau dapatkan”. Kemudian Allah memerintahkan malaikat untuk menyeret tertelungkup atas wajahnya hingga dilemparkan ke dalam neraka.

Kemudian seorang yang menuntut ilmu dan mengajarkannya dan juga membaca Al Quran. Dia didatangkan kemudian ditunjukkan kepadanya nikmat-nikmat yang sudah didapatkannya dan diapun mengakuinya. Allah bertanya, “apakah yang sudah kau perbuat dengannya? maka dia menjawab, “aku menuntut ilmu, mengajarkannya dan membaca AlQuran karena Engkau”. Allah berfirman, “engkau berdusta, sebenarnya engkau menuntut ilmu supaya disebut orang alim, engkau membaca quran supaya disebut Qori”. Kemudian Allah memerintahkan malaikat untuk menyertnya tertelungkup atas wajahnya hingga dilemparkan ke neraka.

Kemudian ada seseorang yang diberi kelapangan harta, dia didatangkan dan ditunjukkan nikmat-nikmatnya dan diapun mengakuinya. Allah bertanya, “apakah yang sudah engaku perbuat dengannya?” dia menjawab, “tidaklah aku tinggalkan satu kesempatan untuk menginfakkan harta di jalan-Mu kecuali aku telah infakkan hartaku untuk-Mu”. Allah berfirman, “engkau dusta, sebenarnya engkau lakukan itu demi mendapatkan orang dermawan , dan engkau sudah mendapatkannya”. Kemudian Allah memerintahkan malaikat untuk menyeretnya tertelungkup atas wajahnya hingga dilemparkan ke dalam neraka.

(Diriwayatkan oleh Muslim dan Nasai, dan diriwayatkan oleh Tirmidzi dan ia menghasankan, dan diriwayatkan oleh Ibnu Hibban dalam shahihnya)

Nah lo…, semuanya orang-orang baik, mati syahid, orang ‘alim, dan dermawan. Tapi semuanya diseret ke neraka, ternyata cuma satu rahasia dari suatu perbuatan manusia yaitu “ikhlas”.

Jika sudah mempunyai niat yang tidak ikhlas, mending cabut saja niatnya. Kalau sudah ikhlas jangan lupa kasih komen ya.. jangan pelit-pelit atau kritik gitu loh…


Imam QULHU

Apa kira-kira yang terbersit di benak kita, he..he..? Bukannya untuk mendiskreditkan ayat – ayat Quran loh. Beberapa kali ketika sholat jum’at di sebuah masjid yang masih di dalam komplek pesantren, pasti ketika sholat yang dibaca surat Al Ikhlas. Pikirku loh bukannya kalau jum’at yang dibaca Al A’la dan Al Ghasiyah? tapi ini kok Qulhu dibaca tiga kali. Akhirnya “husnudzon” sajalah daripada berdosa, ternyata sang Imam sudah sangat sepuh (tua) bahkan ketika khutbah pun suaranya hampir ‘ngos-ngosan’. Bukankah surat Al Ikhlas nilainya sepertiga Alquran, jadi jika dibaca tiga kali sama dengan 30 juz kan?…nah itu mungkin alasan tepat.

Jika yang menjadi imam masih muda pasti bisa berpikiran lain nih..(tapi lebih baik jangan deh…jangan berpikiran jelek maksudnya). Setelah mengikuti sholat, sejenak teringat dulu waktu masih kecil, guru ngaji sering menyemangati kami. “Apakah kalian nanti akan sholat pake Qulya dan Qulhu terus….?” maksudnya surat-surat pendek AnNass dan Al Ikhlas.

Hal ini mungkin sekarang masih banyak dijumpai.., atau mungkin sudah tidak, karena sholat saja tidak pernah. Innalillahi….

Sebuah anekdot yang ditulis oleh  Sukendra Matra mungkin mewakili kondisi kita sekarang atau kondisi umat pada saat ini,

**** Seorang senior pramuka dipersilahkan untuk mengimami anggota dalam salah satu sholat berjama’ah. Tentu hal ini tidak ditolak dengan alasan reputasi. Setelah maju untuk menjadi imam, pada raka’at pertama dia baca surat Al Ikhlas alias Qul huwallahu ahad sampai akhir ayat. Pada raka’at kedua, sang imam yang kebetulan kemampuan bacaannya terbatas itu menjadi mikir, surat apalagi yang akan dibaca setelah Al Fatihah ini berakhir…. wa la adh -dhallin..Akhirnya begitu para makmun menyahut ‘ amin’, dengan tanpa sadar sang imam menengok ke belakang sambil berkata: ” Ma’af, untuk kali ini Qulhu lagi aja ya…..”

Empat belas abad yang lalu, Rasulullah SAW pernah mengeluh kepada Alloh SWT yang kemudian di abadikan dalam Al Quran surat Al Furqon ayat 30 :


” Dan berkata Rasul, Ya Rabb sesungguhnya kaumku menjadikan Al Quran ini menjadi barang yang ditinggalkan”.

Apakah kita termasuk menjadi orang-orang yang dikeluhkan oleh Rasulullah SAW, yang suka meninggalkan Al Quran? jangankan menghafal untuk bacaan sholat.., bahkan membacapun kita masih enggan.. . Allohu ‘alam.


Puasa tapi tidak sholat

Jika ada yang bertanya, anda puasa hari ini? jawab ya.. Dan kalau kita bertanya kamu koq ngga sholat? nanti dulu ah.., belum mantap nih iman ku..atau aku belum bisa bacaan sholatnya…. Nah jika  demikian kita menjadi  tahu alasan yang melatarbelakangi kenapa seseorang tidak melaksanakan sholat. Jadi kita berhusnudzon saja dengan saudara kita yang muslim, mungkin baru sebatas itu memahami arti sebuah perintah walau perintah itu dari Alloh SWT.

Sampai saat ini hal yang demikian masih banyak disekitar kita, alasan mengapa mereka masih melaksanakan puasa tapi untuk sholat belum. Untuk sholat mungkin mereka masih belum terbiasa, atau memang tidak mau atau masih ada sesuatu yang membuatnya tidak melaksanakan sholat. Memang jika kita cermati lagi bahwa tatacara ibadah keduanya adalah berbeda, puasa hanya menjaga hal-hal yang memang dilarang walaupun harus bersusah payah untuk bangun sahur. Sedangkan sholat harus memenuhi syarat dan rukun yang mungkin bagi sesorang itu ada hal-hal yang ribet.

Manusia memang cenderung menyukai hal-hal yang mudah dan kurang suka dengan hal yang agak menyusahkan. Padahal jika kita benar-benar ingin melaksanakan semua perintah Alloh SWT pasti akan ada jalan dan dimudahkan. Karena agama ini adalah mudah kecuali yang mempersulit, untuk orang sakit sholat bisa sambil duduk bahkan tidur atau posisi berbaring. Untuk orang yang sakit dan tidak harus kena air bisa bertayamum, orang yang bepergian bisa digabung sholat (jamak). Dan bagi yang belum bisa bacaan sholat bisa sholat berjama’ah karena bacaan imam adalah bacaan makmum, sembari terus belajar agar bisa sesuai tuntunan.  Jika dengan kemudahan ini tidak juga dimanfaatkan, yang ditakutkan adalah status hukum yang diberikan kepada orang yang meninggalkan sholat.

Rukun Islam yang lima memang harus betul-betul terlaksana kecuali haji yang memang memerlukan syarat-syarat yang tidak setiap orang bisa melaksanakannya. Sholat adalah tiang agama, barang siapa menegakkan sholat maka dia telah menegakkan agama. Barangsiapa meninggalkan sholat maka dia termasuk yang merobohkan agama. Apalagi jika kita mengambil pendapat tentang kafirnya seseorang jika sudah meninggalkan sholat.

“Pembatas antara seorang muslim dengan kesyirikan dan kekafiran adalah meninggalkan sholat.” (HR. Muslim)

“Perjanjian antara kami dan mereka (orang kafir) adalah mengenai sholat, barangsiapa meninggalkannya maka dia telah kafir.” (HR. Ahmad, Abu Dawud, At Tirmidzi, An Nasa’i, Ibnu Majah dengan sanad yang shahih dari Buraidah Al Aslamiy)

“Amalan yang pertama kali dihisab dari seorang hamba pada hari kiamat adalah sholat. Jika sholatnya baik ,maka baiklah seluruh amalannya. jika jelek maka jelek pulalah seluruh amalannya.” (HR Thabrani)

Marilah saudaraku janganlah berkecil hati jika memang belum sempurna dalam melaksanakan sholat alias masih bolong-bolong, karena kita masih mencintai kebaikan dengan bukti masih melaksanakan puasa. Mumpung masih dalam bulan penuh ampunan marilah kita sempurnakan sholat kita sambil memohon untuk dimudahkan dalam menjalankannya.


Apa Hebatnya Sholat Subuh

shaff rapat dan lurusMengapa hebat, ya karena kedahsyatan, keindahan, keagungan dan manfaat dari apa yang dinamakan subuh. Barangkali memang bagi kita yang muslim waktu subuh adalah sa’at dimana kita diperintahkan oleh Sang Pencipta untuk beribadah kepada-Nya. Apakah itu sebuah perintah,.jawabnya ya,..itu adalah perintah dari Sang Pencipta kita.

Perintah bisa dimaknai sebuah ‘ajakan’ yang bersifat memaksa agar kita melaksanakan sesuatu. Lalu bagaimana dengan subuh? Sekali lagi marilah kita memikirkan sejenak tentang “subuh”. Jika kita perhatikan didalam ajakan untuk sholat subuh (baca: adzan) ada satu kalimat yang berbeda dari adzan yang lain. Apakah itu,….“asholatu khoirun minna naum” yang artinya adalah sholat lebih baik dari pada tidur.

Jika kita cermati yang namanya tidur adalah rutinitas yang harus kita jalani sehari-hari. Tapi mengapa Sang Pencipta kita sampai memerintahkan kepada kita untuk sholat pada sa’at kita sedang lelap tertidur…? Coba kita buka lagi AlQuran atau manual book bagi manusia, kenapa bisa dikatakan manual book? Dimanapun yang namanya ciptaan pasti ada buku petunjuk yang disertakan juga, nah kita diciptakan oleh Alloh Sang Pencipta tentunya tidak mungkin jika dibiarkan begitu saja atau jika memang demikian niscaya hancurlah kita sebelum ajal kita datang,..naudzubillah.

Kembali ke Al Quran yaitu surat Al Israa ayat 78 , Alloh berfirman : “Dirikanlah sholat dari sesudah matahari tergelincir hingga gelap malam dan (dirikanlah pula sholat) subuh. Sesungguhnya sholat subuh itu disaksikan (oleh malaikat)”.

Lantas apakah sholat-sholat yang lain tidak disaksikan? Inilah yang menjadi rahasianya mengapa sholat subuh itu begitu “agung”. Untuk menjawab ini marilah kita simak hadits nabi SAW,

Dari Abu Hurairah ra berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda tentang firman Alloh SWT ,” Wa Qur’anal fajri inna Qur’anal fajri kaana masyhuda: disaksikan malaikat malam dan malaikat siang (HR Tirmidzi dengan derajat hasan shahih).

Jadi disini kita bisa menilai kenapa sholat subuh itu disaksikan oleh malaikat yang banyak, karena waktu subuh itulah berkumpulnya malaikat malam dan malaikat siang. Jika kita sholat malam maka yang menyaksikan hanyalah satu rombongan malaikat malam sedangkan jika kita melaksanakan sholat siang maka yang menyaksikan hanyalah satu rombongan malaikat siang.

Selain itu ada riwayat dari Shahih Imam Bukhori, dari Abu Hurairah ra berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda, “keutamaan sholat berjama’ah dengan sholat sendirian adalah 25 derajat. Dan malaikat malam dan malaikat siang berkumpul pada waktu subuh” (HR Bukhori).

Lalu ketika kita membaca hadits yang lain kita akan bertanya-tanya ada apa sebenarnya dengan sholat subuh? Mari kita lihat hadits yang lain.

Dari Abu Hurairah ra berkata Rasulullah SAW bersabda: tidak ada sholat yang lebih berat bagi kaum munafik daripada sholat subuh dan isya, dan andaikan mereka mengetahui pahalanya tentu mereka akan mendatanginya meskipun dengan merangkak (HR Bukhori wa Muslim).

Rasulullah SAW bersabda : barangsiapa yang sholat isya dengan berjama’ah maka seakan-akan ia mengerjakan sholat setengah malam, dan barangsiapa yang mengerjakan sholat subuh berjama’ah maka seolah-olah ia mengerjakan sholat semalam penuh (HR Muslim wa Turmudzi dari Utsman ra)

Subhanalloh, maha suci Alloh yang tidak menampakkan dosa-dosa dan keburukan kepada kita. Bagaimana seandainya kebaikan dan keburukan itu dinampakkan kepada kita? Misal jika kita berbuat keburukan timbul ‘daging’ atau ‘noktah-hitam’ pada tubuh kita, niscaya tidak mampu kita akan memikulnya, atau jika kebaikan itu nampak maka yang terjadi adalah berusaha berebut pahala kebaikan sebagaimana digambarkan dalam hadits diatas hingga seseorang akan rela walaupun harus merangkak untuk menggapainya.

Itu hanya sebagian dari kehebatan sholat subuh, jika ingin mengetahui lebih banyak silahkan search tentang kehebatan sholat subuh yang lain. Masih banyak manfaat yang kita dapatkan dari sholat subuh ini baik dari segi agama, kesehatan, dan  hubungan sosial , tentunya jika dilaksanakan berjama’ah di masjid.


Gerbong itu….akhirnya

gerbongKebiasaan bermain tanpa mengenal waktu dan tempat, membuatku sering bersinggungan dengan teman-teman yang tidak aku kenal. Tapi hal tersebut bukanlah halangan bagiku untuk terus bermain, sampai suatu saat ada seorang teman mengajakku untuk naik sebuah gerbong yang tidak kuketahui. Ketika masuk gerbong pertama kali, asing … Orang yang lalu-lalang didalamnya sering memperhatikanku, tapi kebiasaan ‘cuek’ku mampu meredamnya. Tak terasa sudah lama sekali aku bermain di dalamnya, bahkan akrab dengan para penghuninya.
Kondisi gerbong yang begitu nyaman membuatku sering mengajak teman-teman yang aku kenal untuk ikut. Sampai suatu ketika ada hal yang membuatku agak terkejut, gerbong tersebut adalah bagian dari rangkaian sebuah kereta yang sederhana, tanpa warna, tanpa bunyi berisik.
Bahkan ketika kereta berjalanpun, aku masih merasa nyaman. Sesekali berhenti untuk memberikan kesempatan para penumpangnya untuk mengirup udara atau mungkin sekedar mencari makanan ringan.

Bagiku pindah dari gerbong ke gerbong tidak membuat aku merasa asing, toh itu masih satu rangakain kereta dimana para penumpangnya memaklumi.
Suatu ketika, aku mencoba naik ke atas gerbong yang aku naiki…., wah ternyata enak juga nih untuk lihat suasana luar sambil lihat gerbong-gerbong yang lain.
Ternyata kebiasanku untuk naik gerbong, membuatku sering melongok ke gerbong lain. Kereta yang dulu tanpa warna, dan tanpa berisik itu rupanya agak berubah. Mungkin agar lebih menarik gerbong-gerbong dicat warna-warni, dan kereta dibuat agak bersuara walau tidak seberisik kereta yang lain.
Tiba-tiba aku dikejutkan oleh sebuah gerbong dekat lokomotif, yang aku ketahui memang agak padat. Suara gaduh didalamnya membuatku lebih serius untuk mencari-cari penyebabnya. Wow, yang membuatku lebih terkejut beberapa penumpang turun sambil teriak-teriak, sumpah serapah terdengar. Tapi ada juga yang dipaksa turun, tapi yang dipaksa tersebut tidak bereaksi apapun hanya turun dengan tenang diikuti beberapa yang lain.
Ada apa ini, membuat adrenalin mengalir deras..maklum tidak terbiasa dengan hal-hal yang beginian. Setelah cari tahu dari orang-orang yang turun atau dipaksa turun ternyata mempunyai alasan yang sama ‘tidak nyaman’ lagi berada di gerbong tersebut. Setidaknya hal ini bisa diketahui dari obrolan-obrolan panjang mereka, tentang penghuni lain yang tidak toleran, suka membawa barang-barang yang tidak diperlukan hingga membuat gerbong terasa pengap, suka teriak-teriak tidak karuan, sampai kereta api yang dijalankan terlalu cepat dan sering ganti warna lokomotif hingga minta masinis untuk berhenti atau digantikan.

Ternyata hal tersebut berimbas juga pada gerbong-gerbong di dekatnya, kemungkinan kedekatan emosional dengan penghuni gerbong terdekat lebih kental. Tiba-tiba aku dikejutkan lagi oleh gerbong di dekatku yang tadinya banyak penghuni tiba-tiba sepi, wah pada kemana nih….hal ini membuatku agak limbung. Sampai suatu saat aku terbangun dan sadar…” ayo akhi bangun, naik lagi yuk!” seorang teman yang dulu akrab menepuk pipi. Tapi karena agak shock karena peristiwa yang terlihat dan rasa pusing yang belum juga reda, dengan nada agak kasar aku cepat bereaksi “ogah ah!”.
“loh kenapa?” tanyanya , “tuh lihat, banyak yang pada turun dari kereta ini”, jawabku . “Sudahlah, itu manusiawi toh manusia saling membutuhkan. tidak bisa bekerja sendiri.., jika bekerja sama yang dibutuhkan adalah “trust” kalo sudah saling menanam “Dzhon” (curiga) yah..akhirnya bubar..”.
………………………..
“Ya Alloh jika gerbong ini ada dalam ridhomu, gabungkanlah diriku dengan penghuni di dalamnya. Jika hal itu tidak Engkau ridhoi, jauhkanlah aku sejauh-jauhnya”

spacelab23072010

untuk seorang teman, yang belum sempat meminta ma’af kepadanya


Jargon Maling : Posisi Menentukan Prestasi


Memasuki hari kedua menjadi ‘satpol-UTS’ (pasti ada yang nyengir), menjadikan beberapa ‘pekerjaan’ menjadi tidak tersentuh. Utak-atik ‘mapserver’ agak sempoyongan,..ah sudahlah yang penting tugas tetap dilaksanakan.
Seperti biasanya jika sudah memasuki ruang ujian yang terdengar pertama kali adalah “bebas, bebas” atau “posisi menentukan prestasi”. Ternyata yang dimaksud adalah bebas untuk menentukan tempat duduk yang strategis untuk menjalankan ‘aksi’.
Jika sudah ‘teng’ tempur saat ujian berlangsung, yang dapat disaksikan adalah wajah-wajah tegang, duduk tidak tenang seperti orang sembelit, tengok kanan kiri…
Itulah potret ‘mahasiswa’ yang bangga dengan attribut mahasiswa, yang jauh berbeda dengan real-mahasiswa yang memang mempersiapkan diri untuk menjadi mahasiswa.


Do’a masuk dan keluar masjid

Hal-hal yang sebenarnya penting dan dilupakan banyak orang, bahkan menganggapnya sepele dan tidak perlu yaitu berdo’a di setiap waktu.
kadang orang beranggapan bahwa do’a bisa dilaksanakan kapan saja sewaktu kita butuh.
Tapi ternyata jika kita perhatikan secara benar apa yang dicontohkan oleh Rasulullah SAW, bahwa seorang muslim yang seharusnya disetiap keadaan diajarkan untuk berdo’a.
Pagi ini secara kebetulan (yang mungkin memang direncanakan Allah) saya melihat sebuah tayangan acara tv yang dipandu oleh Aa Jimmy plesetan dari Aa Gym, bertanya kepada beberapa orang yang kebetulan sedang mau ke masjid atau akan keluar masjid.
Dan ketika ditanya apa do’a ketika masuk dan keluar masjid, rata2 jawaban yang sama adalah ‘tidak tahu’ atau ‘lupa’, atau ada bapak2 dengan kopiah ‘haji’ bilang “mau ngetest ya”…hehehe
Tapi itulah realita di negeri yang muslimnya terbesar didunia ternyata hal2 yang kecil dimata manusia tapi besar disisi Allah sudah banyak dilupakan, yakni berdo’a untuk segala urusan…
Do’a masuk masjid
doaMasukMasjid

Artinya : Aku berlindung kepada Allah, Tuhan yang Maha Agung dengan zatNya yang mulia dan kekuasaanNya yang azali, daripada syaitan yang dirajam.
Segala puji bagi Allah. Ya Allah! limpahkanlah selawat dan salamMu ke atas Nabi Muhammad, dan ke atas keluarga Nabi Muhammad.
Ya Allah! Ampunilah bagiku segala dosaku dan bukakanlah bagiku pintu-pintu rahmatMu, dan mudahkanlah bagiku pintu-pintu rezekiMu

atau

Doa-masuk-Masjid

Allahummaftah li abwaba rahmatika.

Artinya: “Ya Allah, bukalah bagiku pintu-pintu rahmat-Mu.”

Doa keluar masjid

doakluarMasjid

Artinya : Aku berlindung kepada Allah, Tuhan yang Maha Agung, dengan zatNya yang mulia, dan kekuasaanNya yang azali, daripada syaitan yang dirajam.
Segala puji bagi Allah. Ya Allah, limpahkanlah selawat dan salamMu atas (Nabi) Muhammad, dan ke atas keluarga Nabi Muhammad. Ya Allah! Ampunilah segala dosaku dan bukakanlah bagiku pintu-pintu rezekiMu, lindungilah aku daripada syaitan dan bala-tentaranya.

atau
Doa-keluar-dari-Masjid

Allahumma inni as-aluka min fadlika.

Artinya: “Ya Allah, Aku memohon kepada-Mu karunia-Mu.”

semoga bermanfaat,…


NU rasa Muhammadiyah

Alhamdulillah, ramadhan tahun ini bisa menikmati puasa di tempat yang sebelumnya belum pernah terbayangkan.
Jika tahun-tahun sebelumnya dekat dengan banyak mushola dan masjid, kali ini hehehe..,di lingkungan perumahan ada satu musholla yang waktu saya pindah menjelang romadhon baru direnovasi alias dipugar total.
Jadi ya..selama itu, menunggu jadi maksudnya lebih banyak sholat dirumah, berjama’ah dengan keluarga.
Dulu waktu masih di kota santri, kalo mau sholat tinggal pilih masjid atau mushola yang kita sukai. Maklum di kota tersebut ‘ashobiah’ atau fanatik terhadap golongan masih kental. Tapi bagi saya hal itu tidak menjadi halangan, bahkan lebih meningkatkan pengetahuan tentang hal-hal yang sangat sensitif.
Karena masa kecil yang akrab dengan hal-hal yang berbau ke ‘NU’ an, ternyata ketika ‘bersinggungan’ langsung dengan hal-hal yang belum saya pahami, dan setelah berinteraksi dengan teman-teman dari kalangan ‘Muhammadiyah’ jadi tahu mana dan apa saja yang bisa membuat hal-hal sepele jadi sepolo eh..gede maksudnya.
Biasa, masalah khilafiah…
Kembali ke romadhon.., dulu jika ingin sholat tarawih 23 roka’at atau 11 roka’at tinggal nyari masjid atau mushola, yang express atau super cepat, yang sedang-sedang saja atau panjang sampai 1 juz, tinggal pilih.
Nah sekarang, ditempat yang sebenarnya tidak baru-baru amat bagiku, tapi untuk urusan yang satu ini benar-benar blank…:-(
Akhirnya dengan mantap cari masjid yang menurutku tidak terlalu jauh dan yang tidak terlalu cepat dalam sholat, karena bagiku berapapun jumlah raka’at dalam terawih tapi kalo pake yang express pasti saya langsung keluar. Pernah suatu kali mengikuti sholat terawih yang baru dapat 2 roka’at tapi sang imam membaca surat-surat pendek dengan tempo yang cepat, huh…! langsung aja kabur…
Awalnya ketika malam terawih yang pertama masjid sudah penuh sesak terutama di shaf kaum ibu hingga meluber sampai halaman masjid. Takmir masjid sebelum sholat tarawih mengumumkan bahwa sholat dilaksanakan dalam 11 roka’at, waw..padahal kalo sholat fardhu dengan bacaan basmalah jahr (dikeraskan) dan setelah sholat baca doa dengan keras-keras saya sudah berpikir nanti sholat terawihnya pasti 23 roka’at,..ternyata meleset.
Setelah merasakan terawih yang terasa ringan dengan bacaan surat-surat pendek tapi dengan tartil, tibalah sa’atnya untuk sholat witir sebagai penutup. Sang imam memberi tahu sholat witir akan dilakukan 3 roka’at dengan 2 salam, wah..ini yang bikin saya mikir lagi biasanya kalo sholat terawihnya 11 reka’at pasti witirnya 3 reka’at dengan sekali salam, hehehe ternyata meleset lagi..
Dan dimalam-malam sesudahnya saya ketemu teman lama di masjid ini, dan saya bilang …wah ini masjidnya NU tapi rasa Muhammadiyah ya..hehehe


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.