Saya hanyalah upil dihadapan anda, Boss !
Bagi sebagian orang upil adalah makhluk yang menjijikkan, tapi bagi sebagian yang lain barangkali menjadi sesuatu yang mengasyikkan. Tentu saja menjijikkan jika itu upil orang lain yang diperlihatkan kepada kita, mengasyikkkan jika kita sendiri mengorek-ngorek sampai kemudian meremas sebentar lalu membuangnya. Sadar atau tidak ternyata kegiatan “ngupil” ini merupakan kegiatan hampir semua orang (hampir loh) , jadi kita tidak tahu apa sebenarnya yang mendasari seseorang untuk melakukannya.
Sedangkan “upil” itu sendiri adalah kotoran hidung yang memang ada, tetapi orang baru merasakan keberadaannya dengan cara mengorek-ngorek hidung. Dan itupun tidak ada jadwal yang yang pasti, dimana ada waktu luang kegiatan ngupil akan terjadi.
Lantas apa hubungannya saya dengan upil?? Jelas saya sendiri punya upil, tapi bukan itu yang mau saya share di sini. Seperti yang saya singgung di atas bahwa makhluq yang bernama “upil” itu memang ada tapi orang tidak menyadari keberadaannya. Dia baru sadar jika ada upil didalam hidungnya ketika jari-jari masuk ke lubang hidung, setelah didapat bisanya tidak langsung dibuang (tul nggak?..ngaku aja).
Persis seperti saya yang hanya pekerja rendahan cuma sekolah rendahan yang juga bergaji rendahan, sehingga orang dengan mudah merendahkan. Keberadaan pekerja rendahan tidak ubahnya seperti “upil”, walaupun postur tubuh gede tetaplah menjadi seekor “upil”. Seperti dalam percakapan sehari2 dalam logat Javaneese ‘koq mung sak upil’ maksudnya koq cuma kecil atau sedikit. Walaupun mereka ada tetap aja dianggap tidak ada, mereka dianggap ada ketika dibutuhkan (biasanya yang membutuhkan dalam keadaan emosi, marah-marah). Setelah puas dengan umpatan lalu sang “upil” dibuang.
Begitulah kira-kira, sikap orang-orang yang arogan, merasa kuasa, benar sendiri, tahu segalanya…hingga jika mereka berhadapan dengan “upil” mereka harus meremasnya. Dan jika mereka tidak butuh, walaupun sang ‘upil’ ada dihadapannya pura-pura tidak melihat padahal sang’upil’ siap dengan tundukan kepala tanda hormat kepada “BOSS”.
Tapi walaupun dianggap upil, tidak lantas menjadikan saya atau kita (yang senasib tentunya) rendah. Justru orang-orang yang merendahkan orang lain itulah yang rendah dihadapan-Nya dan semua makhluq-Nya.
Allah Swt telah menjelaskan dalam surat Al-Hujurat ayat 11 : “Hai orang-orang yang beriman,janganlah segolongan orang laki-laki merendahkan segolongan yang lain,boleh jadi yang ditertawakan itu lebih baik dari mereka. Dan jangan pula segolongan perempuan merendahkan segolongan yang lain, boleh jadi yang direndahkan itu lebih baik. Dan janganlah suka mencela dirimu sendiri dan jangan memanggil dengan gelaran yang mengandung ejekan. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk sesudah iman dan barang siapa yang tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim.“
Kemudian didalam surat Al -Hujurat ayat 13 Allah menjelaskan : “…. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang palaing taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.”
So,.. jika kita masih dianggap UPIL oleh orang lain ya..sabar aja bro…, sambil berkata woteper yu say Sir.. (logat javaneese)

komentar anda...