Mbah Maridjan, Antara Ketaatan & Kefahaman
Berita tentang Gunung Merapi yang kembali beraktivitas memang tidak terlalu mengejutkan, tetapi berita ‘kematian’ sang penjaga Merapi menjadi sangat menghebohkan. Kehebohan muncul ketika jasad beliau ditemukan dalm posisi sujud di dalam rumah. Orang yang sangat bersahaja dan dikagumi oleh banyak pihak ternyata menjemput ajal dalam ‘menetapi’ janjinya serta ‘mentaati’ perintah yang tidak akan pernah beliau khianati.
Banyak yang menyayangkan kepergian beliau dengan cara yang begitu tragis (menyambut datangnya ‘wedhus gembel’), bahkan mencibir kenapa beliau masih ‘kokoh’ mempertahankan apa yang diyakini beliau. Ada juga yang menganggap konyol keputusan untuk tetap tinggal di lereng Merapi.
Lepas dari pro dan kontra yang selalu mengikuti suatu peristiwa, penulis salute terhadap ‘etos kerja’ yang ditunjukkan oleh Mbah Maridjan. Beliau tetap bersemangat walau bahaya telah ada dihadapan, kepatuhan akan perintah ‘atasan’ pantang untuk ditolak.
Takdir telah berbicara, ‘sang penjaga’ Merapi telah menghadap ‘atasan’ yang sesungguhnya dalam posisi bersujud. Tidak ada yang tahu apa yang sedang terjadi ketika maut menjemput beliau, Allohu a’lam.
Berbicara tentang keta’atan, dahulu ketika Nabi Muhammad SAW mengirim utusan ke bani Quraizhah dalam perang Ahzab dan memerintahkan para sahabat untuk sholat ashar di sana. Tetapi apa yang terjadi ketika masuk waktu ashar mereka belum sampai ke tujuan yaitu bani quraizhah, hingga terjadi perdebatan untuk melaksanakan sholat ashar atau melanjutkan perjalanan sampai tujuan, kemudian sholat ashar. Hingga terjadi perbedaan tafsir ‘perintah’ shalat ashar, sebagian melaksanakan di perjalanan dan sebagian lagi melaksanakan sholat ashar di bani Quraizhah.
Ketika berita ini sampai kepada Nabi SAW, beliau pun tidak menyalahkan keduanya. Karena keduanya dianggap benar, walau sahabat menafsirkannya berbeda. Yang pertama beranggapan bahwa mereka diperintahkan untuk mempercepat perjalanan hingga bisa melaksankan sholat ashar di tujuan, yang kedua beranggapan bahwa perintah Nabi adalah sholat ashar di tujuan.
Jadi dari pelajaran ini kita dapat mengambil kesimpulan bahwa ketaatan itu penting, dan kefahaman itu jauh lebih penting. Dan kembali pada etos kerja yang ditunjukkan Mbah Maridjan, beliau beranggapan bahwa yang memerintahkan beliau untuk tetap menjaga merapi adalah Sultan Hamengku Buwono IX. Sehingga ketika Sultan Hamengku Buwono X memerintahkan untuk turunpun diabaikan, karena itulah kefahaman beliau…………wallahu a’lam.

komentar anda...